Masjid Raya Baiturrahman: Saksi Bisu Perang Aceh, Tsunami, dan Kebangkitan Serambi Mekkah

Dibakar dalam Perang Aceh

Salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah masjid terjadi ketika meletusnya Perang Aceh. Pada April 1873, pasukan kolonial Belanda menyerbu Banda Aceh. Masjid Raya Baiturrahman dijadikan benteng pertahanan oleh rakyat Aceh karena letaknya yang strategis di pusat kerajaan.

Dalam pertempuran sengit tersebut, bangunan masjid terbakar. Peristiwa itu memicu kemarahan rakyat Aceh dan semakin mengobarkan semangat jihad melawan penjajah. Kehancuran masjid menjadi salah satu simbol penderitaan sekaligus tekad masyarakat Aceh untuk mempertahankan tanah air dan agama mereka.

BACA JUGA...  Jejak Daratan Tinggi yang Membentuk Aceh: Hubungan Kerajaan Gayo dengan Kesultanan Aceh

Dibangun Kembali oleh Belanda

Untuk meredam kemarahan masyarakat Aceh, pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman pada 1879. Bangunan baru dirancang oleh arsitek Belanda dengan gaya arsitektur Mughal yang dipadukan dengan unsur Timur Tengah.

Awalnya, banyak rakyat Aceh menolak menggunakan masjid tersebut karena dianggap dibangun oleh penjajah. Namun seiring berjalannya waktu, masjid kembali menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat. Renovasi dan perluasan terus dilakukan hingga kini, sehingga masjid memiliki tujuh kubah besar, delapan menara, serta mampu menampung puluhan ribu jamaah.