Aksi itu terekam kamera dan viral di media sosial.
“Kenapa tiba-tiba Gubernur Sumut menghentikan truk Aceh di jalan raya? Aneh sekali. Apa ini kebetulan? Atau sinyal politik-ekonomi dari luar Aceh?” ujar Umar penuh tanya.
Fakta yang tak kalah penting, menurut data PLN, Aceh masih bergantung pada suplai listrik dari Sumut sebesar 30–40 persen untuk menutup defisit pasokan di wilayah timur dan tengah.
Pertanyaan pun muncul: apakah blackout listrik Aceh sejak 29 September hingga tiga hari lebih, yang dipicu gangguan di PLTU Nagan Raya dan PLTMG Arun, juga ada kaitannya dengan “permainan” dari luar provinsi?
“Kalau Aceh sampai gelap total, sementara sebagian besar jaringan interkoneksi kita lewat Sumut, logis untuk mempertanyakan: apakah ada faktor kesengajaan? Apakah mafia tambang yang terusik bergerak lewat jalur energi?” sindir Umar.
Pemadaman listrik selama 72 jam lebih membuat Aceh lumpuh. Rumah sakit terpaksa mengandalkan genset, UMKM berhenti produksi, dan masyarakat menjerit.
PLN mengaku terpaksa melakukan manajemen beban dengan memprioritaskan fasilitas vital seperti rumah sakit dan bandara.
Rangkaian peristiwa inilah yang dinilai Umar sebagai bukti ada kekuatan besar yang tak nyaman dengan langkah Mualem.





