Di sampingnya, warga berdiri diam, sebagian menunduk cemas melihat lahan mereka kini tergenang lumpur kecokelatan.
“Air naik cepat, Pak. Kami tidak sempat menyelamatkan semua barang,” ujar seorang warga, ibu paruh baya yang masih mengenakan kain sarung basah. Ia menunjukkan arah rumahnya yang sebagian terendam di ujung desa.
Danrem mendengarkan dengan seksama. Tidak banyak kata, hanya gestur empati yang terlihat dari raut wajahnya. Ia kemudian memanggil Danramil dan perangkat desa untuk memastikan langkah cepat dilakukan.
“Kita harus perkuat tanggul sementara. Gunakan karung pasir, dan siapkan alat berat bila memungkinkan,” katanya tenang namun tegas.
Perintah itu langsung disambut oleh Dandim 0111/Bireuen, Letkol Arh Luthfi Novriadi, yang segera menggerakkan personel TNI di lapangan.
Tak lama, sejumlah prajurit tampak mulai memanggul karung-karung pasir, menata di sepanjang tepi sungai yang rawan tergerus air.
Warga pun ikut bahu-membahu. Di sinilah, batas antara seragam dan baju lusuh petani seakan lenyap [semuanya sama di hadapan ancaman air bah].
“Ini bukan hanya soal tanggul yang jebol, tapi tentang bagaimana kita melindungi kehidupan,” ucap Danrem ketika ditemui di sela peninjauan. “Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mempercepat perbaikan. Warga harus bisa kembali beraktivitas dengan aman.”
Langit masih mendung saat rombongan menelusuri area yang terdampak. Di beberapa titik, aliran air masih kuat menggerus sisi jalan dan menghanyutkan lumpur.




