
Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Selatan Akmal AH melalui Kabid Kebudayan Hendri, Tarian Landok Sampot, sekarang ini telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tekhnologi RI.
Menurutnya, sejak tercatat sebagai WBTB, maka terhadap Landok Sampot, ada kewajiban untuk melindungi dan membinanya.
“Kekuatan seni Tari Landok Sampot ini justeru keasliannya tanpa modifikasi apapun,” kata Hendri.
Dikatakan, terhadap kehadirannya pentas PKA ke-8, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Selatan, telah melakukan pembinaan.
“Mereka (maksudnya tim penari dan pemusik-red) sudah dibina sejak bulan Maret 2023, jadi penampilan Landok Sampot ini akan lebih sempurna dengan gerak aslinya, tanpa modifikasi sedikitpun, sesuai dengan permintaan panitia provinsi,” kata Hendri.
Menurutnya, berbagai etnis bangsa Aceh memiliki beragam kesenian tradisional dan menyambut tamu dengan tarian seperti Ranup Lampuan, Gayo dengan tari Guel-nya.
Maka di Tanah Kluet (Kluwat-red), masyarakatnya memiliki tari persembahan yang berbeda, yaitu Landok Sampot.
Dari deskripsi tari Landok Sampot yang telah ditulis, masyarakat Kluet khususnya di Laweswah dan sekitarnya atau kawasan udik di Kluet Timur Aceh Selatan itu, tarian ini diciptakan oleh seorang Panglima Negeri Kluet yang bernama Amat Sa’id.
Tarian ini mulai berkembang pada masa pemerintahan Raja Imam Balai Pesantun dan Teuku Keujreun Pajelo. Tarian ini dijadikan tarian adat yang disakralkan dalam setiap upacara adat. Sayangnya penciptanya tidak sempat melihat karyanya dicintai masyarakat Kluet.
Karena sebelum tarian ini berkembang, Ahmad Sa’id hilang dan tidak pernah kembali dari sebuah perjalanan di Gunung (Delong-bahasa Kluet-red) Lawe Sawah. Dari sejarah itu, masyarakat Laweswah dan sekitarnya (Tebing-temerking), menyebut gunung tempat hilangnya Mat Said sebagai Gunung Mat Said.
Sampai sekarang, masyarakat setempat sering mengunjungi gunung tersebut untuk berziarah. Sejak saat itu pula, Tari Landok Sampot terus dikembangkan dan dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa dari Tanah Kluet.
Tari Landok sampot merupakan tari persembahan yang ditampilkan sebagai tanda penghormatan kepada tamu atau seseorang yang dimuliakan dalam sebuah upacara adat. Dahulu, tarian ini dipertunjukkan dalam penyambutan kalangan pembesar atau kalangan raja-raja.
Akan tetapi, boleh ditarikan di kalangan masyarakat atas persetujuan raja. Misalnya, dalam upacara adat perkawinan, khitan, dan lain-lain. Namun sekarang tari tersebut juga digunakan untuk menyambut tamu kenegaraan meskipun bukan orang Kluet.
Tari Landok sampot dimainkan oleh 8 orang laki-laki dewasa, diiringi oleh seorang penyair dan seperangkat alat musik yang terdiri atas suling, gong, dua buah canang dan dua gendang.
Sesuai namanya, Landok yang berarti tari dan sampot yang berarti libas/lecut atau pukul. Maka tarian ini menampilkan gerakan seperti perkelahian antara dua kelompok pemuda. Digambarkan bahwa mereka sedang bertarung memperebutkan seorang putri raja, dan yang menang akan dipilih menjadi pasangan putri tersebut.
Gerakannya, terdiri dari lima bagian gerakan antara lain Landok Kedidi (gerakan seperti burung kedidi yang bisa melompat riang dengan tempo cepat), Landok Kedayung (gerakan gemulai seperti mendayung sampan), Landok Sembar Keluki (gerakan dasar seperti burung elang menyambar, gerak cepat, tangkas dan dinamis).
Landok Sampot (gerak melecut dan memukul dengan menggunakan bambu seperti tangkai pancing tradisional), dan Landok Pedang (gerakan penari dengan menggunakan pedang yang menunjukkan ketangkasan dan kekebalan).
Untuk menarikan tarian ini, maka penari harus mengenakan pakaian yang sesuai dengan adat suku Bangsa Kluet. Tarian ini, mulai berkembang seiring dengan pembinaan dan seringnya tampil di berbagai even. Masyarakat luar pun, mulai melirik karena keunikan dan keaslian tarian yang tercipta sejak ratusan tahun lalu.
Karena keunikan dan keasliannya itu pula, boleh jadi, Pemkab Aceh Selatan wajib “membawa” Tari Landok Sampot dari pedalaman Aceh Selatan ke arena PKA ke-8 di Taman Sri Ratu Safiatuddin Banda Aceh. (***)
Halaman : 1 2















