Kritik Pelayanan BSI, PT. IRJ Grup Akan Bangun Bank Syari’ah di Indonesia

  • Bagikan

 390 total views,  1 views today

Aceh (MA) – Pengusaha nasional asal Aceh Dr (Cn) Hj. Rizayati, SH, MM , Minggu (9/5) mengatakan sangat kecewa terhadap pelayanan Bank Syariah Indonesia di Aceh, pasalnya hampir seluruh ATM bermasalah dan sangat meresahkan masyarakat selaku nasabah bank BSI.

paska peralihan ke sistem lembaga keuangan dari konvensional ke sistem bank syariah, khususnya di Kabupaten Bireuen dan Aceh pada umumnya, kata Rizayati.

Hal tersebut dirasakan langsung oleh Presiden Direktur PT. Imza Rizky Jaya (IRJ) Group selaku perusahaan nasional. “Selama kami berada di Aceh selama bulan suci Ramadhan tahun ini kami kecewa dengan sistem pelayanan lembaga keuangan syariah milik pemerintah, dibawah kendali kementrian BUMN dalam melakukan transaksi keuangan di Aceh,” ujarnya Direktur PT IRJ Grup ini.

Lanjutnya,  banyak mitra kerjanya dari luar Aceh kecewa saat mengirimkan uang, tergajal oleh sistem teknologi Bank Syariah Indonesia melalui ATM yang sering mengalami masalah dan ‘Error’ sepertinya belum siap dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan warga luar Aceh.

Kalau kayak gini tambah Rizayati sangat mengganggu perekonomian dalam berniaga untuk berinvestasi di Aceh. Atas apa selama ini kita rasakan sungguh sangat menyulitkan para nasabah atau masyarakat saat bertransaksi dengan ATM Syariah di Aceh, sepertinya masih belum siap untuk dikonservasi ke sistem manajemen syariah tanpa riba.

Dirinya mengatakan, Selama Ramadhan kami sering menjalankan transaksi keuangan roda perusahaan dari Aceh, begitu juga dalam hal transaksi keuangan, semua ATM dan rekening yang kami gunakan konvensional, jadi sangat sulit digunakan di Aceh.

Hj Imza Rizayati Presiden Partai Indonesia Terang ini menilai, tentu sangat miris jika kondisi tersebut terus menerus dibiarkan tanpa diatasi dengan solusi cepat dan tepat, selama ini masyarakat tidak bisa melakukan penarikan dan pengiriman uang dengan berbagai macam kendala semenjak bukan bank nasional yang dulu sistem konvensional, pasca di Aceh berlakunya Qanun Lembaga Keuangan Syariah (LKS) yang diwajibkan beralih sistem syariah.

Tambahnya, Banyak masyarakat di Aceh selama ini yang mengeluh, selama dikonversi ke sistem Syariah sangat sulit melakukan transaksi keuangan, bayangkan jika menjelang ‘Meugang dan Lebaran Idul Fitri di Aceh’. Bila ada warga yang mendapat kiriman uang oleh sanak keluarganya serta familinya dari luar Aceh, saat mau melakukan penarikan ternyata di mesin ATM nya kosong tanpa bisa ditarik.

Ia mengatkan, kadang uang terkirim namun saat di cek belum masuk, tentu ini suatu persoalan baru rata rata di BSI selama sepekan terakhir, banyak masyarakat yang kecewa dan sangat meresahkan pelanggan bank BSI terhadap pelayanan transaksi keuangan disetiap ATM di Aceh, cetus Hj. Rizayati pengusaha nasional asal Bireuen Aceh ini.

Dalam hal ini Hj. Rizayati meminta Pemerintah Aceh mestinya wajib bertanggung jawab dengan kondisi lembaga keuangan syariah saat ini di Aceh, karena setelah Qanun Lembaga Keuangan Syariah (LKS) disahkan, Gubernur Aceh menginginkan bank konvensional harus segera angkat kaki di Aceh, atau dengan segera dilakukan peralihan ke sistem keuangan syariah.

“Kita sangat mendukung lahirnya Qanun LKS dan Bank Syariah di Aceh, akan tetapi harus benar-benar Syariah seutuhnya baik dalam internal bank tersebut maupun dari luarnya dengan melakukan perubahan penyesuaian manajemen bank syariah tersebut, melalui metode dan sistem lembaga keuangan syariahnya secara kontinyu.

Seharusnya disaat Bank Syariah belum siap beroperasi untuk dikonversi ke sistem syariah, Pemerintah Aceh dalam hal ini Gubernur Nova Iriansyah jangan dipaksakan dulu bank konvensional untuk “diusir dari Aceh” sebelum benar benar mampu beralih sistem keuangan Syariah bagi setiap bank konvensional di Aceh secara bertahap digandeng saja dulu untuk sementara waktu sambil menunggu limit waktu kesiapan bank konvensional untuk dialihkan ke lembaga keuangan syariah.” Minta Rizayati Figur Wanita Inspiratif ini.

Banyak mitra-mitra PT. Imza dan Investor dari luar daerah dan luar negeri yang mempertanyakan terkait polemik Bank Syariah di Aceh, mereka masih ragu jika mau berinvestasi ke Aceh, terangnya.

Apabila hal tersebut tidak segera ditandatangani secara serius oleh Pemerintah Aceh, agar bisa untuk perhatikan dan dipertimbangkan sebagaimana mestinya tidak ditangani sesegera mungkin dalam waktu dekat ini, tentu orang luar saat menanam modalnya di Aceh, tentu merasa enggan untuk datang ke Aceh, ungkapnya.

Apalagi lagi para Investor tentu tidak akan mau menanam modalnya untuk berinvestasi di Aceh, bagaimana Aceh kita bilang akan maju, malah di era zaman digital seperti sekarang ini, Aceh malah terjadi kemunduran dalam kemajuan pertumbuhan ekonomi yang masih belum pesat untuk bisa berkembang dan maju kedepannya bila sistem lembaga keuangan syariah belum mampu berfungsi lebih maksimal dan optimal, bebernya.

Dalam hal ini Direktur PT IRJ Hj. Rizayati akan menggagas dan berencana membuka lembaga keuangan Bank Imza Syariah di Aceh, dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal yang berlaku ditengah Rakyat Aceh.

“Kita sedang berkomunikasi dengan sejumlah pihak dalam mengurus segala keperluan, Insya Allah akan mendirikan sebuah Bank dibawah PT. Imza di seluruh Indonesia, tentunya dengan sistem Syariah tanpa riba,” pungkasnya.(Iqbal).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Malu Achh..  silakan izin yang punya webs...