Kontingen Aceh Selatan Tampilkan Tarian Landok Sampot di PKA Ke-8 

Minggu, 5 November 2023

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tarian tradisional Tari Landok Sampot yang dimiliki Aceh Selatan, berasal dari Gampong Laweswah, Kecamatan Kluet Timur menjadi warisan budaya non benda tampil terus menerus setiap even budaya PKA Aceh. Kali ini pun, pada PKA ke-8 di Banda Aceh ditampilkan wajib olehKontingen Aceh Selatan.(Photo/Media Aceh/Istimewa).

Tarian tradisional Tari Landok Sampot yang dimiliki Aceh Selatan, berasal dari Gampong Laweswah, Kecamatan Kluet Timur menjadi warisan budaya non benda tampil terus menerus setiap even budaya PKA Aceh. Kali ini pun, pada PKA ke-8 di Banda Aceh ditampilkan wajib olehKontingen Aceh Selatan.(Photo/Media Aceh/Istimewa).

Tarian ini mulai berkembang pada masa pemerintahan Raja Imam Balai Pesantun dan Teuku Keujreun Pajelo.

Tarian ini dijadikan tarian adat yang disakralkan dalam setiap upacara adat.

Sayangnya penciptanya tidak sempat melihat karyanya dicintai masyarakat Kluet.

Karena sebelum tarian ini berkembang, Ahmad Sa’id hilang dan tidak pernah kembali dari sebuah perjalanan di Gunung (Delong-bahasa Kluet-red) Lawe Sawah.

BACA JUGA...  Kadinkes Aceh Utara Sidak Puskesmas Seunuddon

Dari sejarah itu, masyarakat Laweswah dan sekitarnya (Tebing-temerking), menyebut gunung tempat hilangnya Mat Sa’id sebagai Gunung Mat Sa’id.

Sampai sekarang, masyarakat setempat sering mengunjungi gunung tersebut untuk berziarah.

Sejak saat itu pula, Tari Landok Sampot terus dikembangkan dan dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa dari Tanah Kluet.

Tari Landok sampot merupakan tari persembahan yang ditampilkan sebagai tanda penghormatan kepada tamu atau seseorang yang dimuliakan dalam sebuah upacara adat.

BACA JUGA...  Makan Bareng dan Sholat Berjamaah Menambah Keakraban Satgas Bersama Masyarakat dalam TMMD

Dahulu, tarian ini dipertunjukkan dalam penyambutan kalangan pembesar atau kalangan raja-raja.

Akan tetapi,   boleh ditarikan di kalangan masyarakat atas persetujuan raja. Misalnya, dalam upacara adat perkawinan, khitan, dan lain-lain.

Namun sekarang tari tersebut juga digunakan untuk menyambut tamu kenegaraan meskipun bukan orang Kluet.

Berita Terkait

Banda Aceh Gencarkan Branding Kawasan Tanpa Rokok
Pasca 27 Agustus, Isu Bergeser ke Kepercayaan Institusi
PTGMI Aceh Selatan Reorganisasi Kepengurusan, Kuatkan Profesionalisme dan Integritas
PWI dan GAPKI Gelar Workshop di Yogyakarta
Masyarakat Didorong Jadi Garda Terdepan dalam Jaga Laut
Kelas Berdaya, Mengenalkan Mitigasi Bencana Kepada Siswa SLBN
Ada Apa dengan Taman Budaya Sabang? BPJS Kesehatan Dipertanyakan
Korem 011 Semarakkan HUT ke-81 RI

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 14:25 WIB

Banda Aceh Gencarkan Branding Kawasan Tanpa Rokok

Selasa, 1 September 2026 - 13:47 WIB

Pasca 27 Agustus, Isu Bergeser ke Kepercayaan Institusi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:09 WIB

PTGMI Aceh Selatan Reorganisasi Kepengurusan, Kuatkan Profesionalisme dan Integritas

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:37 WIB

PWI dan GAPKI Gelar Workshop di Yogyakarta

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:05 WIB

Masyarakat Didorong Jadi Garda Terdepan dalam Jaga Laut

Berita Terbaru

FEATURE

Media dan Hulu Migas, Perkuat Pemahaman Energi

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:56 WIB

Anggota DPRK Asel Mistan Aulia (kanan) meninjau Irigasi Paya Dapur Kluet Timur bersama tim BPBD setempat, Jumat, (11/9/2026).(Poto/media eh.co.id/istimewa).

PEMERINTAHAN

Irigasi Tertutup Lumpur, 1.900 Hektare Sawah Terancam 

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:50 WIB

RAGAM BERITA

Bursa Ketum PWI Sumut 2026 Memanas

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:42 WIB

OPINI

Dari Ruang Curhat

Sabtu, 12 Sep 2026 - 09:38 WIB

Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, SE., MM (Ayah Wa).

PEMERINTAHAN

Ayah Wa: Mengakar pada Sejarah, Bertumbuh untuk Masa Depan

Jumat, 11 Sep 2026 - 23:52 WIB