Mewakili Kementerian Kesehatan, dari Kelompok Kerja Tuberkulosis dan Infeksi Saluran Napas Akut (TB ISPA), Dr Alfinella. Dia mengatakan, hasil kajian tersebut akan memberikan gambaran situasi pneumonia dan diare, akses pelayanan kesehatan dan kaitan dengan program lain termasuk gizi, sanitasi, maupun imunisasi.
Irwan memaparkan, Pemerintah Kabupaten Bireuen terus melakukan berbagai upaya untuk menghadapi tantangan dalam memperbaiki situasi pneumonia dan diare.
“Kami berusaha meningkatkan kapasitas petugas kesehatan dalam mendiagnosa pneumonia dan diare dengan keterbatasan alat di lapangan,” sebutnya.
Ditegaskan, pemahaman dan kesadaran masyarakat akan sanitasi dan kebersihan juga perlu ditingkatkan, agar semakin banyak desa yang terbebas dari Buang Air Besar Sembarang (BABS).
“Karenanya, kami mengajak masyarakat berpartisipasi dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” ungkap dr. Irwan.
Mewakili UNICEF Aceh, dr Tira Aswitama mengatakan, Pneumonia dan Diare mengancam keselamatan dan masa depan anak-anak.
“Dengan kerja sama erat kita bisa merancang strategi untuk mengendalikan penyakit-penyakit tersebut dan membantu anak-anak tumbuh sehat dan gembira,” tandasnya.
Bersama lembaga mitra seperti Flower Aceh, Yayasan Aceh Hijau, dan YADUA, UNICEF memberikan dukungan dalam bidang sanitasi dan promosi kebersihan di sekolah. Serta pelatihan gizi remaja, imunisasi, dan pendampingan teknis peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak untuk tahun 2022-2023,





