Ia mengibaratkan media seperti air: ketika jernih, memberi kehidupan, namun ketika keruh, dapat membawa dampak buruk. “Kemana pun media dibawa, tetaplah memegang teguh kode etik jurnalistik. Wartawan harus mampu menimbang dan bertanggung jawab atas setiap tulisan yang dipublikasikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, jangan sampai karya jurnalistik justru melukai, merugikan, atau menzalimi pihak lain akibat kelalaian, ketidakakuratan, maupun ketidakseimbangan informasi.
Sebagai penutup, rangkaian peringatan HPN ke-80 di Aceh Tengah, ditandai dengan pemotongan kue sebagai simbol perjalanan dan eksistensi pers di Kabupaten Aceh Tengah yang diiringi alunan instrument Biola dengan lagu Tawar Sedenge dipersembahkan oleh Yusra Amri populer dipanggil Aman Abat.
Sementara itu, Ketua DPRK Fitriana Mugi yang hadir terlambat karena mengikuti acara Musrenbang di kecamatan itu, hanya menikmati kue ultah yang disiapkan oleh Kapolres Aceh Tengah, Bank Aceh dan KONI untuk disantap dengan segelas kopi yang bervarian khas Gayo.
Acara diakhiri, foto dan makan bersama insan jurnalis Gayo, (AR)















