“Sangat ironis jika Indonesia harus mengeluarkan dana hingga belasan triliun rupiah hanya untuk duduk sebagai penonton dalam sandiwara geopolitik. Diplomasi kehilangan makna jika biaya sebesar itu tidak mampu menghentikan satu peluru pun di Gaza,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa harga diri bangsa tidak boleh ditentukan oleh kepentingan global yang bias dan tidak konsisten terhadap prinsip hak asasi manusia serta hukum humaniter internasional.
Sebagai alternatif strategis, IndexPolitica mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil inisiatif global dengan memimpin Geopolitical Affairs Summit (GAS), yang diposisikan sebagai Konferensi Asia Afrika (KAA) Edisi Khusus Palestina. Forum ini diharapkan menjadi ruang diplomasi alternatif yang lebih jujur, berdaulat, dan berakar pada mandat konstitusional Indonesia.
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,” kata Alip mengutip Pembukaan UUD 1945.
Menurutnya, Indonesia sejak awal dirancang bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bangsa dengan mandat moral global. Karena itu, jika suara Indonesia terus diabaikan sementara nyawa terus melayang di Gaza, meninggalkan forum yang timpang bukanlah sikap emosional, melainkan tindakan kedaulatan yang elegan dan bermartabat.




