Jalan-jalan strategis dibersihkan secara bertahap, fasilitas umum didata tingkat kerusakannya, dan dapur umum didirikan di sejumlah titik pengungsian. Namun, Armia juga mengakui bahwa tantangan terbesar justru muncul setelah fase darurat berlalu.
Pemulihan membutuhkan alat berat, anggaran besar, dan koordinasi lintas kementerian yang tak sederhana. Di sinilah dukungan Mendagri menjadi krusial, terutama dalam mempercepat sinkronisasi program pusat dan daerah.
Mendagri Tito pun menegaskan komitmennya. “Kami akan mendorong kementerian terkait untuk membantu akselerasi pemulihan pasca-bencana di sini.”
Bagi Aceh Tamiang, pernyataan itu bukan sekadar janji politik, tetapi harapan agar proses rehabilitasi tidak tersendat oleh birokrasi yang berbelit.
WARGA DI ANTARA LUMPUR DAN KETIDAKPASTIAN
DI LUAR rapat koordinasi itu, warga masih berjibaku dengan realitas pahit. Di beberapa kampung, lumpur mengendap di lantai rumah, perabot rusak, dan lahan pertanian gagal panen. Sebagian pedagang pasar mengaku belum bisa kembali berjualan karena kios mereka belum layak pakai.
“Kalau pasar belum bersih, kami mau jualan di mana?” keluh seorang pedagang perempuan di kawasan kota Kuala Simpang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan fisik harus berjalan beriringan dengan pemulihan sosial dan ekonomi. Tanpa itu, bencana berpotensi melahirkan kemiskinan baru yang lebih permanen.




