Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa setempat mengambil langkah darurat: menambah tiga ekor lembu dengan harga Rp23 juta per ekor melalui sistem utang. Pembayaran direncanakan menggunakan dana desa pada tahap berikutnya. Setelah total lima ekor dipotong, barulah pembagian bisa ditingkatkan menjadi sekitar setengah kilogram per kepala keluarga atau sekitar 1,5 ons per jiwa.
“Kami tidak tega kalau warga hanya kebagian sekadar simbol. Meugang ini tradisi, soal martabat dan kebersamaan,” ujar Aneuk Syuhada, sapaan akrab Zulkifli.
Kecamatan Pante Bidari sendiri merupakan salah satu wilayah paling parah terdampak banjir besar pada 26 November 2025. Ribuan rumah rusak, lahan pertanian hancur, dan banyak warga kehilangan sumber penghasilan. Hingga kini, pemulihan ekonomi belum sepenuhnya berjalan normal.
Di tengah luka pascabencana yang belum pulih, bantuan meugang seharusnya menjadi penguat rasa hadirnya negara. Namun ketika angka anggaran mencapai puluhan miliar rupiah, sementara warga hanya menerima segenggam daging, pertanyaan tentang ketepatan skema dan proporsi distribusi pun tak terhindarkan. (R)




