Untuk mengembalikan semangat kejayaan tersebut, Laskar Panglima Nanggroe menilai perlu adanya kebijakan tegas dan terarah dari pemerintah daerah. Selain mewajibkan pemuda yang menganggur untuk bekerja sebagai petani, pedagang, nelayan, atau tukang, mereka juga mendorong agar lahan-lahan kosong yang selama ini dibiarkan terbengkalai diserahkan kepada pemuda.
“Serahkan lahan yang tidak terpakai kepada pemuda, bimbing mereka untuk bertani dan berkebun. Pinjamkan lahan, siapkan pelatihan, sediakan modal, bantu akses pasar, dan jadikan program unggulan. Jika serius dijalankan, dalam lima tahun saja akan terlihat hasilnya,” tegas pernyataan itu.
Tidak hanya fokus pada kerja harian, program ini juga harus diarahkan pada pengembangan komoditi unggulan yang diminati pasar luar negeri. Aceh punya potensi besar untuk mengembangkan kopi Gayo, kakao, pala, cengkeh, hingga minyak nilam yang selama ini menjadi komoditi ekspor bernilai tinggi.
“Kalau pemuda kita diberdayakan untuk mengembangkan komoditi yang laku di pasar global, maka Aceh tidak hanya mampu keluar dari kemiskinan, tapi juga bisa menjadi pemain penting di perdagangan internasional, seperti masa lalu ketika rempah-rempah Aceh dicari dunia,” tambah pernyataan tersebut.




