Pencegahan yang Belum Cukup Tajam.
KAJARI Yudhi menutup keterangannya dengan pesan yang ditujukan kepada masyarakat Aceh Tamiang. Suaranya mengandung harapan, tapi juga peringatan.
“Kami berharap masyarakat tidak melakukan pelanggaran Syariat Islam, sehingga tindakan preventif yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia.”
Ia mengakui, pencegahan belum bekerja dengan baik. Sosialisasi berjalan, tetapi tidak sebanding dengan derasnya pengaruh digital, ekonomi sulit, dan arus judi online yang menyusup sampai ruang tamu rumah warga.
Sementara itu, aparat syariat dan aparatur hukum harus terus menjalankan apa yang diamanahkan oleh regulasi.
Mereka berdiri di antara dua tuntutan; menjaga marwah Syariat Islam, dan memahami realitas sosial yang semakin kompleks.
Di Tengah Suara Rotan dan Doa yang Tertahan.
SAAT eksekusi berakhir, matahari siang mulai meninggi. Para pelajar kembali ke sekolah, pejabat kembali ke kantor, dan para terpidana kembali ke kehidupan masing-masing.
Luka di punggung mereka akan sembuh dalam beberapa hari, tetapi luka sosial yang lebih besar [efektivitas hukum dan kepercayaan masyarakat] belum tentu demikian.
Aceh Tamiang kembali menjalani rutinitasnya. Namun di halaman Islamic Centre itu, suara cambuk yang terdengar pagi tadi mungkin masih bergema, mengingatkan kita bahwa di balik setiap eksekusi ada pertanyaan yang belum terjawab:





