Buruh Cangkul Itu Jadi Anggota DPRK

ACEH TAMIANG,  (MA) | Siapa yang tak kenal dengan lelaki kelahiran Kabupaten Asahan, 29 Mei 1965 silam, berperawakan tinggi dan besar, santun, ramah dan bijaksana. Pengusaha sawit sukses di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Dialah, Haji Samuri, suami dari Ichun. Anggota DPRK Aceh Tamiang dari Partai Nanggroe Aceh (PNA), periode 2018 – 2023. Dia terpilih sebagai Ketua Komisi I.

Traderecord nya tak diragukan lagi, konsep hidupnya ‘Berusaha, Berderma dan Bermanfaat’ agaknya tak berlebihan jika dia menggunakan motto itu sebagai label cemeti bagi dirinya agar hidup lebih berguna dan bermanfaat bagi banyak orang.

Ternyata suami dari Ichun dulunya merupakan kuli kasar sebagai tukang cangkul diperusahaan perkebunan besar PT Pati Sari.

Carut marut kehidupan pahit dia lalui dengan penuh ikhlas. 14 tahun menjadi buruh kasar bukanlah hal yang mudah dia lalui. Banyak sandungan harus disingkirkan untuk memenuhi kebutuhan hari harinya.

Satu jam penulis bersamanya, banyak hal menarik sisi kehidupan seorang H Samuri bisa dipetik dan ditelisik lebih dalam lagi.

Bangkit Dari Tukang Cangkul
H Samuri, adalah seorang yang piawai merangkai kepingan bisnis, darah pengusahanya sudah tertanam sejak lama, meski harus dibayar dari pekerja kasar sebagai tukang cangkul dan babat.

Pekerjaan itu dia lakoninya dari tahun 1980 sampai 1987 dengan tekun di PT Pati Sari. Sehingga manajemen perusahaan mengangkat Samuri sebagai karyawan tetap.

Perusahaan PT Pati Sari dan Nilam Wangi mempercayakan Samuri sebagai mandor, yang membawahi puluhan para pekerja pengumpul Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Karir Samuri kian menanjak, hanya satu setengah tahun, sebagai mandor di PT Pati Sari diperankannya. Perusahaan mempercayai dia untuk membuat satu badan usaha dengan legalitas hukumnya.

Tanpa pikir panjang, Samuri mengikuti saran dari manajemen perusahaan untuk membuat badan usaha leveransir yang membidangi Perawatan Perkebunan PT Pati Sari. Sebagai sub kontraktor.

Pihak manajemen PT Pati Sari menanggung semua kebutuhan biaya operasional yang dikeluarkan Samuri, sebagai orang yang dipercayakan dalam Perawatan Perkebunan.

BACA JUGA...  Melirik Prestasi Pendidikan Aceh di Tingkat Nasional

“Semua saya awali dengan bismillah, serta saya serahkan ke Manager PT Pati Sari, sebab saya tidak punya uang untuk memulainya,” akunya menjabarkan.

Dari sinilah geliat usahanya dibidang perkebunan menjalar begitu cepat. Tepatnya di tahun 1987 lalu dia memulai debutnya sebagai Anemer Perawatan Perkebunan.

Ternyata doa dan harapan seorang H Samuri diijabah Allah SWT. Dia melangkah dijalanNya, berbagai kekurangan dan hambatan menggelayut bersama detak bisnisnya.

Allah memberi berbagai cobaan yang sifatnya membangun asabatnya untuk lebih maju dan berkembang dibidangnya.

Hari ini 14 tahun silam, Samuri bergelut bersama usaha leveransir perawatan perkebunan, usahanya membuahkan hasil.

“Ingat, tidak semua yang kita dapat adalah milik pribadi kita, tapi ada hak hak orang lain yang harus kita perhatikan dan keluarkan buat mereka,” katanya.

Dari usahanya, Samuri mengeluarkan zakat tahunan, santunan anak yatim, sunatan massal, qurban dan bantuan bagi masyarakat tak mampu.

Usaha H Samuri tidak sebatas Perawatan Perkebunan. Melebar sampai membuka usaha baru yang difasilitasi juga oleh manajemen PT Pati Sari.

Usaha baru H Samuri sebagai pengembang sayap perusahaan Leveransir Perawatan Perkebunan adalah Penerima (Stockist) Tandan Buah Sawit Segar (TBS), diperusahaan perkebunan tersebut.

Tak tanggung tanggung, PT Pati Sari memberi kemudahan, menyediakan truck pengangkut TBS masyarakat kampung Tenggulun.

Aktifitas diluar usahanya mulai terbatas, waktunya habis tersita buat usahanya yang berkembang dengan sangat pesat dan memiliki karyawan yang banyak.

Jadwal kerja H Samuri sangat padat, memaksa dia untuk mengundurkan diri dari Leveransir Perawatan Perkebunan pada tahun 1996.

Pengunduran diri H Samuri sangat beralasan, sebab sebagai Leveransir tidak mengikat dengan kontrak kerja. Ditambah usaha Penerima TBS berkembang dengan sangat pesat dan perlu perhatian sangat serius.

Dia pokus menggeluti bisnis barunya tersebut yang menyita banyak waktu. Dan butuh ketelitian sangat serius.

BACA JUGA...  Cabdin Aceh Utara Gelar Acara Lepas Sambut Pejabat Baru

Setiap tahunnya, H Samuri menambah armada angkutan. Sebab perharinya sebagai usaha Penerima TBS, pada tahun 2000 an saja sudah menampung TBS mencapai 400 ton, membutuhkan armada angkut yang banyak.

Begitupun H Samuri tak lupa untuk berbagi kepada masyarakat. Siapapun yang datang membutuhkan pertolongan dengan ikhlas dia bantu.

“Usaha saya berkat doa anak yatim, orang tak mampu dan masyarakat secara umum. Sewajarnya saya harus membantu mereka. Saya sangat butuh Ridha Allah SWT. Hari ini saya rasakan nikmat Allah itu datang bersama mereka dan saya,”

Sebagai penerima TBS, H Samuri memasok TBS ke pabrik pabrik besar seperti, PT Pati Sari, PTPN 1 Sementok dan pulau tiga, BSG, PT Alur Gantung.

Supplay TBS tidak hanya di Aceh saja, tetapi sudah merambah hingga ke provinsi Sumatera Utara, terutama ke PKS Gebang serta PKS Mr Evand dikabupaten Langkat.

H Samuri hingga kini masih sangat dipercaya, sebab cashflownya tidak ada yang direkayasa. Itu menjadi nilai tambah bagi perusahaannya.

Hari ini perusahaan Penerima TBS milik H Samuri, sudah memiliki Truck Angkutan mencapai 21 unit, dengan karyawan tetap 100 orang tenaga kerja.

Lain lagi dengan sistim kerja sama atau bermitra, buruh harian lepas (BHL) nya mencapai 1.250 orang pekerja ada dibawah bendera H Samuri.

H Samuri tetap berpegang teguh kepada Tuan Guru dalam usahanya, “Kalau kau mau maju ada dua pegangan hidup yang harus kau jalani, Ubudiyah dan Qurban,” jelas Samuri menyadur pernyataan Tuan Guru.

Wejangan itu yang dianut dan dijalankan seorang H Samuri menggawangi hidup dan usahanya. Ridha Allah ada bersama langkahny dan sebanyak 1.350 orang tenaga kerja yang bergantung hidup darinya.

Tak dipungkiri, usaha Penerima TBS H Samuri bukan perusahaan kacangan, sayap sayap pengembang usahanya terus dibangun.

Kali ini Samuri membuka wadah wadah baru, sebagai penampungan Sawit Rakyat Base Camp atau Ram di wilayah Kecamatan Bandar Pusaka, Kecamatan Tenggulun.

BACA JUGA...  Dua Mahasiswa UNADA Banda Aceh Ikuti Pembekalan Kader Rakyat Terlatih Kodam IM

Bahkan Base Camp atau Ram sawit rakyat ini juga dibuka H Samuri sampai ke wilayah Kabupaten Langkat untuk membuka sayap usaha miliknya.

H Samuri berpesan, ingatlah sebahagian dari rezeki yang kita miliki adalah milik orang lain, yang harus dikeluarkan. Disana ada hak, anak yatim, fakir miskin. Dan semua harus dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Saya Wakil Rakyat Bukan Dewan

H Samuri lebih suka dibilang Wakil Rakyat dari pada disebut Anggota Dewan. “Saya ikuti kata kata dalam lagunya Iwan Fals,” katanya sambil bercanda.

Debutnya didunia pengusaha dibidang perkebunan sudah sangat sukses dan telah mempekerjakan seribuan lebih karyawan. Bersandar padanya.

Dia terpanggil untuk menjadi seorang wakil rakyat di DPRK Aceh Tamiang, berawal dari rasa sosial yang sangat kental.

Baik kepada Fakir Miskin, Anak Yatim serta masyarakat kurang mampu. Itulah cikal bakal melangkah kekursi Wakil Rakyat.

Alasannya, agar dia bisa berbuat lebih besar lagi bagi masyarakat yang butuh pertolongan dari dirinya. Menurutnya tugas mulia ini akan terus dillakukan hingga ajal menjemput.

Berbuat demi kepentingan orang banyak, sepertinya sudah menjadi kewajiban bagi seorang Samuri.

Untuk memenuhi semua keinginannya; H Samuri; mendaftarkan diri masuk ke partai lokal, Partai Nanggroe Aceh (PNA) disinilah debutnya bermula.

Tepatnya di 2018 H Samuri ikut bertarung menjadi Calon Legislatif periode 2018 – 2023, dia mendapat dukungan penuh dari masyarakat dan petani Sawit di Daerah Pemilihan Dua.

Dengan kerja keras bersama timsesnya, H Samuri berhasil lolos ke kursi singgahsana dewan, perolehan suaranya sangat signifikan 2.700 suara.

Dan hari ini dirinya duduk sebagai anggota dewan DPRK Aceh Tamiang, dari Partai PNA. Sebagai ketua Komisi I.

Hasratnya untuk berbuat dalam bingkai agama, membantu mereka yang lemah tercapai sudah. “Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat Aceh Tamiang yang memilih saya duduk disini, insha Allah saya akan berbuat yang terbaik buat masyarakat tanpa pamrih,” pungkasnya. (Syawaluddin)