Sejak bencana pertama terjadi, Kamsiah telah lebih dahulu mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Tanpa keluarga yang dapat menjadi tempat bergantung, ia kini menumpang di rumah warga sekitar.
Kondisi ini menggambarkan kerentanan sosial yang dialami sebagian korban bencana, khususnya mereka yang tidak memiliki jaringan keluarga atau dukungan ekonomi yang memadai.
Di tengah situasi darurat, personel TNI dari Koramil 05/Pining bergerak cepat membantu warga. Mereka terlibat langsung dalam proses evakuasi, pembersihan material longsor, hingga pembongkaran rumah-rumah yang dinilai sudah tidak layak huni.
Selain itu, aparat juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Langkah ini dilakukan sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana susulan, mengingat curah hujan di wilayah tersebut masih cukup tinggi.
Namun demikian, upaya tanggap darurat ini dinilai belum cukup untuk menjawab persoalan jangka panjang. Warga yang kehilangan tempat tinggal kini menggantungkan harapan pada program hunian tetap (huntap) dari pemerintah.
Hingga saat ini, realisasi huntap masih dinantikan oleh masyarakat terdampak. Keterlambatan dalam penyediaan hunian permanen berpotensi memperpanjang masa pengungsian warga, sekaligus meningkatkan risiko sosial dan ekonomi di tengah ketidakpastian.




