Atsiri Pendongkrak Ekonomi Arus Bawah

  • Bagikan

 77 total views,  1 views today

“Kita sangat berbahagia, walaupun ada beberapa penyakit Nilam yang muncul, namun panen Nilam kali ini hasilnya sangat memuaskan. Dengan beberapa intervensi yang kami berikan, tanaman Nilam hari ini beratnya sampai 7-8 kg per pohon. Ini 3-4 kali lipat dibandingkan panen biasanya,” Ujar Profesor Rina. Pengurus Atsiri Research Centre Universitas Syiah Kuala yang juga ahli bidang penyakit tanaman.

Laporan | Syawaluddin

CALANG (MA) – Pengurus Atsiri Research Centre (ARC) Universitas Syiah Kuala, Profesor Rina, menegaskan; pengembangan potensi Nilam, sebagai sumber pendapatan masyarakat arus bawah, tidak bisa dipandang sebelah mata.

Pontensi komoditi Nilam yang dijadikan minyak Atsiri setelah dilakukan pengolahan memiliki daya jual yang sangat signifikan. Sebab Atsiri menjanjikan sebagai salah satu komoditi unggulan di Aceh.

Demikian kata Profesor Rina pada mediaaceh.co.id, Senin, 1 Maret 2021. Di Calang, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh. Bahwa; dilihat dari faktor geografis dan sifat tanah di Aceh Jaya sangat cocok untuk dikembangkan komoditi pohon nilam sebagai bahan baku pengolahan minyak atsiri.

Penjelasan itu dikatakan Rina; saat dilakukan Panen Raya pohon Nilam yang dihadiri perwakilan dari Universitas Syiah Kuala (USK), Bank Indonesia, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong (DPMG) Aceh, Camat Kecamatan Sampoiniet, Danramil, Keuchiek dan perangkat desa lainnya.

Acara dimulai dengan pemotongan tanaman Nilam secara simbolis dilanjutkan dengan diskusi dan makan siang bersama serta berlanjut dengan Fokus Group Diskusi (FGD) terkait pengembangan desa wisata nilam atau desa inovasi Ranto Sabon.

“Kita sangat berbahagia, walaupun ada beberapa penyakit Nilam yang muncul, namun panen Nilam kali ini hasilnya sangat memuaskan. Dengan beberapa intervensi yang kami berikan, tanaman Nilam hari ini beratnya sampai 7-8 kg per pohon. Ini 3-4 kali lipat dibandingkan panen biasanya,” Ujar Profesor Rina. Pengurus Atsiri Research Centre Universitas Syiah Kuala yang juga ahli bidang penyakit tanaman.

Hasil panen saat ini sekaligus menjadi bukti bahwa bertani Nilam, tidak bisa hanya sekedar bermodalkan ilmu praktek turun temurun.

Dengan diberikan berbagai intervensi baik dari segi kualitas tanah, bibit, perawatan, panen, hingga penyulingan. Perekonomian masyarakat dipastikan sangat berpotensi untuk dapat ditingkatkan.

Diharap, masyarakat mau bekerja lebih giat, menerapkan good agriculture practises dan tetap berdoa kepada Allah agar kegiatan bertani Nilam di masa yang akan datang akan membawa kebaikan bagi masyarakat dan alam sekitar.

Selain itu, Prof. Taufik Fuadi Abidin, Ketua LPPM yang hadir mewakili Rektor Universitas Syiah Kuala, mengatakan Universitas Syiah Kuala akan senantiasa memberikan dukungan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan baik itu penelitian maupun pengabdian agar masyarakat dapat terus berkembang dan mandiri secara ekonomi.

“USK berkomitmen memberikan pengetahuan, teknologi, SDM bahkan pendanaan untuk mengembangkan berbagai inovasi hulu-hilir industry nilam Aceh” ujar Taufik.

Sementara itu, Kepala DPMG Aceh, yang ikut berhadir dan berdiskusi kepada masyarakat menyampaikan, bahwa salah prioritas utama DPMG saat ini adalah untuk menguatkan BUMG di seluruh Aceh agar memberi nilai tambah ekonomi kepada masyarakat.

“Isu utama hari ini di Aceh adalah persoalan kemiskinan, kami berharap BUMG Ranto Sabon dapat menerapkan iptek yang dibina oleh ARC untuk mengelola budidaya nilam hingga pengembangan produk turunannya. Saya pikir, gampong yang sudah memilik produk sendiri merupakan salah satu gampong yang menunjukkan kegigihan dalam berusaha. Jika masyarakat sudah berkomitmen, kami pun siap mendedikasikan waktu, tenaga, dan kemampuan kami untuk mendukung masyarakat,” Ujar Azhari.

Camat Sampoinet Syarkani yang juga hadir, dalam sambutannya menyampaikan kegembiraan dan dukungan penuh dari pemerintah baik tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten untuk usaha yang telah dilakukan ARC bersama BI Aceh dalam mengembangkan ekonomi lokal masyarakat berbasis tanaman nilam.

“Pada rapat terakhir dengan pak sekda telah disetujui untuk membuat masterplan pengembangan desa ranto sabon sebagai desa wisata nilam. Dan juga akan dilakukan peningkatan beberapa fasilitas jalan untuk memperlancar transportasi ke Ranto Sabon,” jelas Syarkani.

Sejak 2019 ARC Universitas Syiah Kuala bersama Bank Indonesia Perwakilan Aceh telah mengembangkan Program Local Economic Development (LED) Nilam di Desa Ranto Sabon Kecamatan Sampoinet Aceh Jaya.

Ada tiga tahapan awal pengembangan Desa Nilam Ranto Sabon yaitu pada 2019 fokus pada penguatan sektor hulu terkait pembibitan, pengembangan budidaya dan pembangunan pusat pembelajaran nilam masyarakat.

Dilanjutkan pada 2020 penguatan budidaya dan hilirisasi produk turunan dan 2021 penguatan kelembagaan desa dan komersialisasi produk desa dengan media desa wisata nilam Ranto Sabon. disampaikan Dr. Syaifullah Muhammad, Kepala ARC-PUIPT Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala.

Syaifullah dalam sambutannya menyampaikan pentingnya kerja sama antara masyarakat, dunia usaha, pemerintah, perguruan tinggi dan media. Kerjasama ini menjadi kunci dari segala keberhasilan.

“Jaga persatuan, hindari perpecahan. Perbesar persamaan, perkecil perbedaan. Tingkatkan pikiran positif, hilangkan pikiran negatif, dan keberhasilan akan bersama kita,” pesan Syaifullah.

Sejak intervensi berbagai program yang dilakukan ARC bersama dunia usaha dan pemerintah, harga minyak nilam sudah stabil dan cenderung meningkat dalam 5 tahun terakhir.

Kestabilan harga ini karena ekosistem bisnis menjadi lebih damai dengan konsep blue ocean, dimana inovasi pada rantai pasok dan nilai nilam dikembangkan menjadi lebih luas.

Budidaya digalakkan, kualitas penyulingan dan pemurnian dikembangkan, produk turunan diberbanyak masuk ke market melalui digital marketing, serta SDM dan riset terus dikembangkan. “Ini semua berkontribusi positif untuk tataniaga komoditas unggualan daerah Aceh yang lebih baik,” jelas Syaifullah.

Untuk kepentingan rakyat, sudah seharusnya semua stake holder berkompromi dengan berbagai perbedaan. Silahkan berbeda dan berdebat, tapi leburkan perbedaan itu ketika kepentingan rakyat harus diperjuangkan.

Persoalan kemiskinan Aceh begitu mencuat saat ini, harus dihadapi secara bersama-sama oleh semua elemen masyarakat dan pemimpin Aceh. Aceh tidak kurang uang.

Aceh tidak kurang orang pintar, yang kita kurang adalah saling memahami, mengalah untuk kepentingan masyarakat kita. Kita harus belajar mengalah.

Pada panen raya ini juga dilakukan pembelian minyak nilam yang telah disuling oleh masyarakat Ranto Sabon oleh Koperasi Inovac yang bekerjasama dengan Perancis. Minyak nilam masyarakat dibeli dengan harga Rp.700.000 sampai Rp. 750.000 per kilogram sesuai dengan kualitasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Malu Achh..  silakan izin yang punya webs...