BIREUEN (MA) – Peudada salah satu Kecamatan di Kabupaten Bireuen memiliki luas areal persawahan 3. 000 hektar (Ha) lebih kurang. Sebelum banjir yang menimpa kecamatan Peudada diawal Februari 2023 menerjang dataran terendah kemudian terbentuklah sungai baru sepanjang 60 meter dengan lebar 50 meter ke sebelah barat, yang terhubung dengan sungai lama, dibawah tanggul irigasi DI Berandang Hagu.
Sehingga aliran air tidak lagi melewati bendungan dikawasan Timur Peudada yang sejak dulu sampai sekarang. Petani dikawasan tersebut, masih mengandalkan air kiriman melalui angkasa pada musim hujan dan air dari tampungan waduk dari Payah Kameh dan Paya Laot.
Hal itu disampaikan oleh Tokoh Bireuen Drs. Muhammad Arif Andepa (Arif Andepa) yang juga putra asal Peudada kepada media ini Rabu, (22/02/2023).
Pada tahun 2010, katanya Pemerintahan Aceh sewaktu Gubernur dijabat oleh drh. Irwandi Yusuf, M. Sc, mulailah dibangun Irigasi Aneuk Gajah Rhet melalui program Proyek Multi Years tahun jamak, hingga selesai dibangun tahun 2012.
Namu menurutnya, memasuki lima tahun kemudian pembangunan saluran proyek fisik vakum setelah Irwandi terpilih kembali menjadi Gubernur periode ke ll tahun 2018 pembangunan saluran irigasi dilanjutkan kembali terbagi dua tahap.
Tahap pertama, sebutnya, Pembangunan Jaringan Irigasi dan pembebasan tanah warga yang dimulai dari Aneuk Gajah Rhet, Gampong Lawang sampai hingga ke Cot Keutapang, butuh anggaran masa itu senilai Rp. 11 Milyar untuk pembebasan tanah dan 25 Milyar untuk pembangunan saluran jaringan irigasi.
Lanjutnya, namun pembangunan tahap kedua di tahun anggaran 2019, dari Gampong Cot Keutapang sampai Pulo Ara, jumlah anggaran sekitar 36 Milyar.
“Kita sesali dana tahap ll tersebut yang sudah dianggarkan melalui dinas Pengairan Aceh di APBA tahun 2019 tidak sempat cair yang dikabarkan menjadi silpa karena ada dugaan permainan harga tanah yang diluar ketentuan harga yang ditetapkan Pemerintah Aceh ditengah masyarakat yang tanahnya diganti rugi,” ungkap sebut Arif Andepa yang juga mantan Wakil Ketua DPRK Bireuen tersebut.
Lanjut Arief Andepa, dengan tidak berfungsinya lagi DI irigasi Beurandang Hagu tersebut, akibat hantaman banjir sebulan yang lalu. Tentu diperkirakan kerugian masyarakat petani Peudada mencapai 60 Milyar lebih dalam setiap tahun.
“Ini telah menjadi persoalan apabila pemerintah melalui dinas terkait, dan pihak legislatif tidak serius menanganinya secara tuntas, maka dapat dipastikan masyarakat petani di peudada, tentu akan mengalami kemerosotan ekonomi berkepanjangan dalam setahun 2 kali masa tanam padi dan perputaran ekonomi ditengah masyarakat petani saat musim panen sekitar puluhan Milyar pada setiap tibanya musim panen padi kandas,” cetus Drs Arif Andepa yang ahli pelukis seni rupa ini.
“Terhadap kondisi demikian, kita masyarakat peudada harus serius mempertanyakan dan menuntut kejelasan dan keseriusan dari pernyataan sikap pemerintah, kapan keseriusan pembanguan irigasi peudada untuk bisa segera ditindak lanjutinya pembangunan kembali, supaya masyarakat petani dapat mengambil sikap alternatif untuk turun ke sawah menanam padi, apa tanam jagung atau bisa bertani menanam kacang sambil menunggu sikap kejelasan pihak Pemerintah Aceh dari Dinas Pengairan Aceh,” ujarnya.
Selain itu menurut Arief, pembangunan irigasi baik di Aneuk Gajah Rhoet, Gampong Lawang maupun DI Irigasi Beurandang Hagu, “kita dapat info akan dikerjakan dalam waktu singkat. Namun masyarakat Petani di Peudada harus bersabar, akan tetapi kalau sikap sebaliknya pemerintah dan DPR tidak ada komitmen yang jelas selaku pihak yang berkuasa dan memiliki wewenang penuh, maka masyarakat petani, mesti mencari solusi alternatif lainnya yang produktif,” harapnya.
Supaya ekonomi masyarakat petani tidak terpuruk terus berkepanjangan secara terus menerus, apalagi berbagai nyanyian elit politik harapan manis jelang Pemilu 2024 yang datang ke Lokasi Irigasi Peudada, di Aneuk Gajah Roet dan DI Beurandang, kata Arif.
Sebelum prediksi buruk terjadi. Katanya, pihak eksekutif, legislatif dan instansi terkait serta unsur tokoh masyarakat Peudada perlu mengambil peran aktif, supaya bisa lebih maksimal dalam melihat jeritan masyarakat petani di Peudada, dibalik maraknya politisi mencari ajang pencitraan politik ditengah masyarakat memasuki tahun politik semata pemilu 2024.
Lanjut Arif, Seminggu setelah musibah banjir terjadi di DI Beurandang Hagu, ada anggota DPR RI yang langsung mendatangkan mentri PUPR. Setelah itu datang rombongan anggota DPRA, meskipun sebelumnya ada datang Pj Bupati Bireuen yang juga untuk meninjau lokasi.
Sebelumnya, sebut Arif, beberapa hari telah dilakukan tindakan tanggap darurat dalam menyahuti aspirasi hati masyarakat, itu pun sia-sia habis dana tanggap darurat ditarik, tapi tidak ada manfaat bagi masyarakat petani agar air sungai bisa masuk ke DI Beurandang Hagu, namun petani langsung terpikat atas kepedulian beliau, tapi sayangnya tindakan tanggap darurat tersebut sifatnya sementara, tidak terlalu urgent dan mengarah politis semata untuk ambil uang SPPD saja di kantor, malah bukan untuk membantu masyarakat petani.
“Menurut saya, itu masih melakukan metode dan pola-pola yang lama dalam rangka mencari elektabilitas dan pencitraan semata, sebaiknya jangan jadikan masyarakat peudada sebagai ladang politik praktis dalam mendulang suara di pemilu 2024,” ungkapnya.
Sebut Arif, kecamatan Peudada memiliki luas lahan sawah 3.000 Hektar. Terdiri 1.800 Hektar sawah produktif dan 1.200 Hektar. tadah hujan akibat hujan deras luapan sungai peudada membelah daratan, sehingga menyebabkan irigasi tidak lagi berfungsi dan lahan produktif terancam gagal panen sampai batas waktu yang tidak menentu.
“Bila kita hitung secata ekonomi
1800 ha x 6 ton/ha x Rp 5.500/kg x 2 kali musim tanam = 54 Milyar belum termasuk biaya penggarapan dan perawatan,” sebutnya.
Kondisi ini jangan dianggap remeh karena ribuan petani ketergantungan hidup di sawah, pada kondisi begini masyarakat sangat mengharapkan pemerintah harus berani menyatakan sikap profesional dan jujur, kapan Irigasi Aneuk Gajah Rhoet dibangun untuk dilanjutkan kembali, dan dimana kredibilitas negara terhadap rakyatnya serta jangan jadikan kondisi ini moment politik untuk menaikkan elektabilitas dengan membangun citra positif bagi politisi ketengah masyarakat semata, bila tidak serius menuntaskan jeritan petani Peudada, pungkasnya Arif Andepa juga Seniman Aceh. (Iqbal).




