Bio karbon yang dihasilkan akan disalurkan ke Penang, Malaysia. Namun, Abu Salam mengungkapkan rencana untuk mempermudah proses distribusi dan penghematan biaya transportasi.
“Kami akan mengupayakan agar investor dapat membuka juga investasi bio karbon di Kota Langsa. Langkah ini tidak hanya memperpendek jarak penyaluran ke Penang, tetapi juga memaksimalkan potensi sumber daya lokal di Langsa,” jelas Abu Salam.
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Ketua Umum Komite Peralihan Aceh (KPA), Muzakir Manaf, yang memiliki visi untuk menciptakan lapangan kerja yang luas dan merata di seluruh Aceh.
Dengan hadirnya investasi dari Malaysia, diharapkan Aceh akan menjadi pusat pengembangan energi terbarukan di kawasan, serta mampu menarik lebih banyak investor asing di masa mendatang.
Dialog peluang investasi yang digagas oleh KPA Luwa Nanggroe tak hanya menjadi bukti keseriusan Abu Salam dan rekan-rekannya dalam membangun Aceh, namun juga menggambarkan semangat untuk membawa Aceh ke era baru ekonomi hijau.
Dengan dukungan penuh dari tokoh-tokoh penting seperti Muzakir Manaf, diharapkan Aceh akan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan sektor energi terbarukan.
“Ini adalah langkah awal dari banyak peluang yang bisa kita ciptakan bersama. Kami mengundang lebih banyak investor untuk melihat potensi besar Aceh di berbagai sektor, bukan hanya energi terbarukan, tetapi juga sektor lainnya yang dapat membantu memajukan perekonomian Aceh,” tambah Abu Salam optimis.




