Pembangunan tanpa kerja keras tak berarti apa-apa. Kerja keras tanpa pemikiran dan masukan orang-orang berpengaruh tidak akan membuahkan hasil seperti yang diinginkan.
Kocek gelisah, sudah dua jam setengah menunggu Kulok [Kocek dan Kulok sebutan lelaki di Aceh Tamiang] di coffee bilangan wilayah Karang Baru, tak muncul-muncul, sudah tiga gelas pun kopi pancung ludes diseruput nya, hatinya bergetar, uang untuk membayar tidak ada.
“Cilakak,” gumamnya dalam hati. Mano ne Kulok cadok kelatan, mukonye. Gano ndak bayorg kopi ne, duik peh cadok [Mana ni Kulok tidak kelihatan mukanya. Gimana mau bayar kopi, uang tak ada], alah… biyorgh kejab agi peh dah datang dio nye [alah biarlah bentar lagi pun sudah datang dia nya].
Rasa gundah menyergap raganya, Kocek berharap Kulok datang untuk bayar minumannya. “Kalau Kulok tidak datang, jam inilah ku tinggal, untuk jaminan bayar kopi,” ucapnya menyemangati dirinya.
Saat rasa gundah hinggapi dirinya, aleh-aleh Kulok muncul, seketika wajah Kocek sumringah girang melihat kehadiran Kulok.
“Mae joh, lamo beno. Kemano engko lalu Lok, dah tigo jam aku duduk kek hini [Apalah, lama kali. Kemana kamu pergi Lok, sudah tiga jam aku duduk di sini],” sergahnya.
Dengan santai dijawab Kulok gunakan bahasa Ibu, “Cek aku di panggil pak Bupati ke kantornya. Banyak hal yang dibicarakan terkait program seratus hari pemerintah Aceh Tamiang,” jelas Kulok.




