Bireuen (MA) – Sungguh miris, jika di Kabupaten Bireuen angka kematian ibu dan bayi ternyata meningkat, sehingga untuk menurunkannya, Dinas Kesehatan setempat menggelar Audit Maternal Perinatal (AMP), Senin (9/12) yang berlangsung di Aula Dinkes Bireuen, dibuka oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Ir. Ibrahim Ahmad, M. Si. Setidaknya 100 orang menjadi peserta yang terdiri dari lintas Sektor maupun Lintas Program.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen, dr. Amir Addani M.Kes menyampaikan pada kesempatan itu, berdasarkan data yang tercatat hingga 9 Desember 2019, Kabupaten Bireuen berada pada posisi ke tiga untuk kematian ibu se Aceh, setelah Kabupaten Pidie, Aceh Timur dan Aceh Utara, serta tingkat kematian bayi, berada pada posisi satu se Aceh.
“Kasus kematian ibu sampai 9 Desember 2019, mencapai 16 kasus, serta kematian Neonatus sebanyak 93 kasus,” ungkapnya pada saat sesi pembelajaran Audit Maternal Perinatal (AMP).
Dirinya telah melakukan berbagai upaya untuk akselerasi penurunan Angka Kemtaian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). “Akan tetapi masalah AKI dan AKB masih menjadi Unfinished Business (masalah yang belum terselesaikan),” ujarnya dr Amir.
Lanjutnya, Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi adalah Pengkajian Audit Maternal Perinatal (AMP), 2 kali setahun.
Dikatakan lagi, Sesi Pembelajaran Audit Maternal Perinatal (AMP), 2 kali setahun. Parade buku KIA serta, Pendampingan Ibu hamil oleh Kader, dibarengi Penguatan Kelas Ibu hamil dan Ibu Balita serta Penyediaan fasilitatif di Poskesdes dan FKTP selain Peningkatan Kapasltas Bidan Desa, Quockwon Pelayanan Darah, Penguatan dan Pelaksanaan Posyandu Terintegrasi. Penanganan Asfiksia pada BBL dan Kalakarya MTBS dan Evaluasi.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Ir. Ibrahim Ahmad, M. Si. menjelaskan, Saat ini situasi kematian ibu dan bayi di Indonesia masih berada pada kondisi yang memprihatinkan. Data menunjukkan bahwa penurunan laju kematian ibu dan bayi masih belum seperti apa yang diharapkan.
“Salah satu indikator keberhasilan sektor kesehatan dapat dilihat dari tingkat kesehatan ibu dan anak. Masih tingginya angka kematian ibu dan anak menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat,” sebut Ibrahim Ahmad.
Penelusuran kematian ibu dan bayi melalui Audit Maternal Perinatal, memungkinkan tenaga kesehatan menentukan hubungan antara faktor penyebab yang dapat dicegah dan kesakitan/kematian yang terjadi.
“Dengan kata lain, istilah audit maternal perinatal merupakan kegiatan death and case follow up sehingga diperlukan dukungan dari semua pihak agar Audit Maternal Perinatal dapat dilaksanakan sesuai standar dalam rangka Akselerasi Penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Bireuen,” tegas Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Bireuen itu.(Juwaini/Maimun Mirdaz).




