OPINI Oleh | Soni Pilson
Sejak merebaknya Covid-19 di Wuhan pada awal tahun 2020, kehebohan mulai menyeruak secara berangsur yang bahkan menjangkau seluruh dunia. Kehebohan ini dipicu oleh banyaknya jumlah korban dalam waktu relatif singkat disertai kegamangan semua pihak menghadapi Covid-19.
Berbagai negara kemudian mulai menerapkan Protokol Covid-19 sesuai dengan anjuran World Health Organization (WHO), mulai dari cuci tangan, tidak berkumpul/melakukan pertemuan, menjaga jarak, membatasi keluar rumah bahkan dilakukan langkah isolasi mulai isolasi mandiri perorangan, komunitas, bahkan seluruh kota (mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar/PSBB sampai lock down). Sebagai akibatnya banyak kantor baik pemerintah maupun swasta yang kemudian menerapkan skema bekerja dari rumah (Working from Home/WFH).
Salah satu cara untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah dengan melakukan pembatasan interaksi masyarakat yang diterapkan dengan istilah physical distancing. Namun, kebijakan physical distancing tersebut dapat menghambat laju pertumbuhan dalam berbagai bidang kehidupan, baik bidang ekonomi, sosial, dan tentu saja pendidikan. Keputusan pemerintah untuk meliburkan para peserta didik, memindahkan proses belajar mengajar di sekolah menjadi di rumah dengan menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) membuat resah banyak pihak.
Penggunaan media online atau media berbasis multimedia merupakan salah satu solusi untuk membuat peserta didik mampu memahami materi pelajaran dengan baik. Media online yang digunakan seperti youtube, whatsapp group, google classroom, dan quizzes. Materi diberikan dalam bentuk powerpoint, video singkat, dan bahan bacaan. Namun dalam pelaksanaan pembelajaran daring tersebut, perlu dilakukan evaluasi agar didapatkan langkah perbaikan jelas yang berbasis data.
Gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia terus mengalami peningkatan dengan prevalensi 1,5% dan tertinggi dibandingkan dengan angka kebutaan di negara–negara regional Asia Tenggara seperti Bangladesh sebesar 1%, India sebesar 0,7%, dan Thailand 0,3%. Penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan tersebut adalah glaucoma (13,4%), kelainan refraksi (9,5%), gangguan retina (8,5%), kelainan kornea (8,4%), dan penyakit mata lain. Dari hasil Survei Depertemen Kesehatan Republik Indonesia yang dilakukan di 8 provinsi (Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat) tahun 1996 ditemukan kelainan refraksi sebesar 24.71% dan menempati urutan pertama dalam 10 penyakit mata terbesar di Indonesia (Depkes RI, 2009).
Pengertian Work Frome Home
Work from home adalah suatu istilah bekerja dari jarak jauh, lebih tepatnya bekerja dari rumah. Jadi pekerja tidak perlu datang ke kantor tatap muka dengan para pekerja lainnya. Work from home ini sudah tidak asing bagi para pekerja freelancer, namun mereka lebih sering menyebutnya dengan kerja remote atau remote working. Work from home dan remote working sebenarnya tidak ada bedanya hanya istilah saja, yang membedakan hanyalah peraturan perusahaan mereka bekerja. Ada yang menerapkan working hours normal 8 pagi sampai 4 sore atau jam kerja bebas asal pekerjaan beres dan komunikasi selalu fast respon.
Penyebab gangguan mata saat Work From Home
Dalam keadaan normal, mata manusia berkedip sebanyak 15 – 20 kali per menit. Tujuannya adalah meratakan air mata ke seluruh bagiannya sehingga mencegah iritasi dan kekeringan. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa jumlah kedipan mata ini akan berkurang ketika seseorang sedang membaca, menonton, atau menatap layar elektronik.
Berdasarkan Canadian Centre for Occupational Health & Safety, beberapa hal yang dapat menyebabkan gangguan pada mata diantaranya: (1). Pencahayaan ruang yang kurang memadai. Terlebih lagi, apabila seseorang bekerja di ruangan di rumah yang memang tidak dikhususkan untuk bekerja. (2). Pancaran cahaya dari layar gawai. Sinar biru dari layar gadget memiliki dampak buruk bagi kesehatan, terutama retina mata. Ditambah dengan pencahayaan ruang yang remang-remang, bisa memicu kelelahan mata. (3). Kualitas layar gadget. Resolusi gambar yang rendah, ukuran tulisan pada layar terlalu kecil, atau warna yang kontras ikut berpengaruh terhadap mata lelah. (4). Jarak pandang ke layar yang terlalu dekat atau jauh. (5). Udara ruangan yang kering. Bekerja di ruangan ber-AC dalam waktu lama, akan membuat mata jadi kering. (6). Postur tubuh yang tidak sesuai. Meja dan kursi yang terlalu tinggi atau rendah memengaruhi posisi bahu, leher, dan punggung, serta jarak pandang ke layar.
Gejala yang sering ditimbulkan
Beberapa ciri mata mulai mengalami kelelahan yakni: (1). Gejala visual. Gejala visual terdiri dari penglihatan kabur, penglihatan ganda, presbiopia, kesulitan dalam memfokuskan penglihatan. Penglihatan kabur merupakan gejala yang banyak dikeluhkan oleh pekerja komputer. Gejala visual yang lain adalah kesulitan dalam memfokuskan penglihatan, yang menurut hasil penelitian oleh Cabrera et al., prevalensinya cukup tinggi (45,1%). Gejala tersebut berkorelasi sangat kuat dengan lama bekerja di depan komputer sehari. (2). Gejala yang berkaitan dengan permukaan okuler. Gejalanya berupa mata berair, mata teriritasi, dan akibat penggunaan lensa kontak. Studi oleh Talwar et al. tentang keluhan penglihatan dan muskuloskeletal pada pekerja komputer di Delhi melaporkan bahwa kejadian mata berair (23,2%) lebih tinggi dari pada mata teriritasi (18,6%). (3) Gejala astenopia atau mata lelah. Gejala astenopia terdiri dari mata lelah, mata tegang, mata terasa sakit, mata kering, dan nyeri kepala. Beberapa penelitian menyatakan bahwa mata lelah menjadi salah satu gejala dominan dari CVS, di antaranya penelitian oleh Bhanderi et al. terhadap operator komputer di NCR Delhi yang menyatakan 46,3% responden mengalami mata lelah dengan kejadian lebih banyak pada perempuan meskipun tidak terdapat perbedaan yang bermakna. (4). Gejala ekstraokuler. Gejala ekstraokuler terdiri dari nyeri bahu, nyeri leher, dan nyeri punggung. Studi oleh Talwar et al. mengenai kelainan visual dan muskuloskeletal pada pekerja komputer mendapatkan gejala muskuloskeletal, seperti : nyeri leher, yang merupakan keluhan terbanyak (48,6%), nyeri punggung bawah (35,6%), dan nyeri bahu (15,7%).
Cara mencegah mata lelah saat Work From Home
(1). Atur posisi laptop atau komputer sesuai dengan postur tubuh. (2). Sesuaikan pencahayaan layar sesuai dengan mata. (3). Istirahat saat merasa mata mulai mengalami beberapa gejala. (4). Selingi dengan senam mata.(*).
Sumber :
1. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Republik Indonesia. The Indonesian Journal of Development Planning Volume IV No 2 Juni-2020.
2. EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN DARING MENGGUNAKAN MEDIA ONLINE SELAMA PANDEMI COVID-19 PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA. Al asma: Journal of Islamic Education Vol. 2, No. 1, May 2020.
3.https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/13014/Bekerja-dari-Rumah-Work-From-Home-Dari-Sudut-Pandang-Unit-Kepatuhan-Internal.html
4.http://eprints.umm.ac.id/54906/3/BAB%20II.pdf
5. https://jovee.id/penyebab-mata-lelah-saat-work-from-home-dan-cara-mencegahnya/
6.https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jhealthedu/article/view/9843/6790
Penulis: Soni Pilson
Fakultas: Kedokteran
Prodi: Pendidikan Dokter
Universitas: Universitas Malikussaleh
Dibawah Bimbingan Ibu Dr. Ratri Candrasari, M.Pd.




