Turun Naik Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan, Indikatornya?

  • Bagikan

 57 total views,  1 views today

“Pertama sekali saya mengapresiasi prestasi yang luar biasa Pemerintah Kabupaten Aceh Besar yang mampu menaikan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,34 persen dan mampu menurunkan angka kemiskinan 0,8 persen biarpun dihantam bencana non alam pandemi Covid-19,” katanya.

Laporan | Syawaluddin

JANTHO (MA) – Aktifis Sosial, Pemerhati Pemerintahan dan Civitas Akademisi Abulyatama Aceh, Usman Lamreueng apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Terhadap naiknya Pertumbuhan Ekonomi diangka 0,34 persen dan turunnya Angka Kemiskinan 0,8 Persen.

Usman Lamreueng

Pertanyaannya?, apa indikator menghitung pertumbuhan ekonomi dan penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Aceh Besar. Begitu penegasan Usman Lamreueng pada mediaaceh.co.id, Kamis, 25 Februari 2021 di Jantho.

Usman menyadur data dari Bappeda Kabuapten Aceh Besar, bahwa; Pertumbuhan ekonomi tumbuh sekitar 0,34 persen dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 4,13 persen dan persentase kemiskinan terus menurun dalam kurun tahun 2020.

Sedangkan angka kemiskinan tahun 2020 turun 0,8 persen atau angka 13,84 persen dari jumlah 18 ribu orang dibandingkan 2019 mencapai 22 ribu orang atau pada angka 13,92 persen. Begitu yang di sampaikan Kepala Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh Besar pada media.

“Pertama sekali saya mengapresiasi prestasi yang luar biasa Pemerintah Kabupaten Aceh Besar yang mampu menaikan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,34 persen dan mampu menurunkan angka kemiskinan 0,8 persen biarpun dihantam bencana non alam pandemi Covid-19,” katanya.

Pertanyaan adalah bagaimana mengukur indikator pertumbuhan ekonomi dan turunnya angka kemiskinan di Aceh Besar?.

Bagaimana pertumbuhan UMKM di Aceh Besar?, apa berjalan mulus?, bagaimana tingkat daya beli masyarakat kalau di lihat dari pengakuan penjual di beberapa pasar dalam wilayah Aceh Besar sepi.

Artinya pembeli ada masalah dengan daya beli masyarakat, bagaimana dengan pengangguran dan dampak pembongkaran bangunan di bantaran Krueng Aceh.

Banyak diantara mereka mengagur hari ini, bagaimana program Pro Abes, apakah sudah ada yang berhasil dibina dan sukses diberdayakan dengan berbagai program pemberdayaan UMKM?.

“Apakah penurunan akan kemiskinan hanya dilihat dari bantuan langsung tunai (BLT), bantuan sosial dan pro abes, yang lebih pada pemberian bantuan dana dan modal?,” tanya Usman

Menurut dia, kalau bantuan pada sektor UMKM indikator tumbuh dan turunnya kemiskinan, mana UMKM masyarakat yang sudah berkembang, malah yang terjadi banyak UMKM menjerit menurunnya omset penjualan mereka, akibat daya beli masyarakat rendah.

Usman, mengingatkan; Kepala Bappeda Aceh Besar harus fair menjelaskan secara detil ke publik, bagaimana indikator tumbuhnya ekonomi dan turunnya angka kemiskinan, kalau sektor UMKM.

Sementara pemerintah tidak menjelaskan UMKM yang sukses di bina dengan program dana pemerintah yang mana saja, agar masyarakat tidak meraba, tidak multi tafsir masyarakat.

Karena memang sekarang banyak masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar sangat sulit ditambah lagi dengan biaya hidup sangat tinggi, seharusnya ini menjadi perhatian Bappeda, agar daya beli masyarakat kembali normal.

“Jangan sampai apa yang disampaikan Kepala Bappeda berbeda jauh dengan kondisi masyarakat sekarang, yang terus tak berdaya alias dalam miskin tanpa terbedayakan,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Malu Achh..  silakan izin yang punya webs...