Program yang dilaksanakan melalui Kelompok Kepiting Desa Unggul dan Reboisasi (Kenduri) itu bertujuan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Mangrove memiliki fungsi strategis sebagai pelindung alami kawasan pantai dari abrasi, intrusi air laut, dan dampak perubahan iklim.
Selain itu, hutan mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai biota pesisir, termasuk kepiting bakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Kabupaten Aceh Utara, Samsul Rizal, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin antara masyarakat dan PHE NSO dalam menjaga kawasan pesisir.
“Mangrove merupakan habitat alami bagi kepiting bakau. Karena itu, pelestarian mangrove menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan budidaya kepiting. Kami berharap ekosistem mangrove di kawasan pesisir Seunuddon terus terjaga sehingga mampu memberikan manfaat ekologis dan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Samsul Rizal.
Menurutnya, keberhasilan menjaga kawasan mangrove akan berdampak langsung terhadap keberlanjutan sumber daya pesisir yang menjadi tumpuan hidup masyarakat nelayan.
Sementara itu, Manager Community Involvement Development Regional 1 PHE, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam menciptakan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kepiting bakau memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat. Karena itu, program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan pesisir, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” kata Iwan Ridwan Faizal.
Ia menjelaskan, apabila ekosistem pesisir tetap terjaga, masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan ikan di laut, tetapi juga memiliki alternatif sumber pendapatan melalui budidaya kepiting bakau yang bernilai jual tinggi.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















