BANDA ACEH (MA) – Revitalisasi Pekan Peunayong yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh tampaknya menjadi produk gagal, kata Usman Lamreung lewat siaran persnya, Sabtu, (29/6).
Ia menyebutkan, pengalihan fungsi dari pasar Peunayong menjadi Kota Tua, pusat kuliner, dan taman kota masih hanya sebatas impian dan harapan. “Saat ini, Peunayong berubah menjadi kota mati. Kota Tua menjadi slogan dan program penataan Pemko terlupakan, tidak selesai, terbengkalai, dan jorok,” ungkapnya.
“Slogan kota tua hanya menjadi hasrat penguasa, namun tak becus dilakukan penataan. Padahal, jika penataan Peunayong benar-benar serius akan berdampak besar pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan bisa menjadi ikon kota Banda Aceh sebagai titik nol sejarah Kota Tua Banda Aceh,” ujar Usman Lamreung selaku pengamat.
Lanjutnya, Relokasi pasar dan penataan Peunayong menjadi Kota Tua dan pusat kuliner adalah produk gagal dan telah menyebabkan kawasan tersebut menjadi kota mati.
Dulu, kata Usman Lamreung, Peunayong didesain Belanda sebagai Chinezen Kamp (tenda) atau Pecinan. Peunayong dihuni oleh warga Cina dari suku Khe, Tio Chiu, Kong Hu, Hokkian, dan etnis lainnya.
Kawasan tersebut, sebutnya, menjadi pusat perdagangan yang cukup menonjol. Berdagang merupakan mata pencaharian utama suku Cina, yang umumnya tumbuh di lingkungan pusat bisnis.



