Prof Wardiman: Literasi Kita Gagal dan Budaya Baca Kita Lemah

Minggu, 17 November 2019

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Banda Aceh (MA)- Sukses mengangkat Budaya Panji serta turut mempromotori Hikayat Aceh agar sama-sama dapat nominasi Memory of the World (MoW) UNESCO, Prof Wardiman Djojonegoro komentari dunia literasi Indonesia gagal dan budaya baca lemah.

Kekhawatiran Wardiman sangat beralasan sebagaimana penelusuran sejarah kebudayaan dan peradaban Indonesia sejak sepuluh tahun terakhir telah melibatkan beliau menguasai beberapa naskah kuno (manuskrip) di nusantara.

“Bangsa ini di masa silam sangat tinggi budaya literasinya, para syeh, ulama, tokoh-tokoh kebudayaan kunci di berbagai kerajaan yang tersebar sepanjang nusantara dulu telah menukilkan berbagai ilmu pengetahuan bagi anak cucunya, bahkan info terbaru saya dengar di Kerinci ada manuskrip yang usianya cukup tua yakni sekitar 600 masehi,” papar beliau, Kamis 14 November 2019.

Perlu ada dorongan bagi generasi untuk memperhatikan budaya literasi, namun zaman Soekarno, Suharto mau diterapkan literasi belum berhasil juga, solusinya menurut Wardiman harus mengubah budaya tidak senang membaca menjadi senang membaca.

“Tidak gampang melawan televisi maupun internet, jadi kita berkaca pada Malaysia yang literasinya jauh lebih bagus dibanding Indonesia, mengapa sampai demikian? Harus dipelajari,” ungkapnya.

Ketika budaya membaca rendah maka budaya riset pun sangat kecil, budaya riset harus banyak membaca buku, namun kepada generasi tetap dianjurkan agar tetap berusaha, jangan mengeluh agar bisa maju.

BACA JUGA...  Sekdako Lepas Kafilah Kota Sabang MTQ Aceh XXXIV di Pidie

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Kabinet Pembangunan VI era Presiden Suharto ini merupakan putra Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Lahir 22 Juni 1934, di usianya 85 tahun masih sangat bugar melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan atas kemampuannya.

“Sejak sepuluh tahun yang lalu, saya mulai menekuni, mendalami naskah-naskah kuno. Saat itu naskah Babad Diponegoro mulai dikaji, apalagi ada programnya, agar naskah kuno itu diakui oleh dunia internasional, ketika itu berhasil setelah bekerja selama tiga tahun naskah berikutnya adalah Arsip-Arsip Asia Afrika juga berhasil,” ujarnya.

Yang paling berat saat itu naskah-naskah Panji, Cerita Panji dan Budaya Panji. Naskah yang kita tulis itu sampai 300 halaman. Lalu ketika berdiskusi dengan pakar Belanda dan Inggris mereka bilang, kalau mau riset naskah tua maka teliti Hikayat Aceh.

Diponegoro ditulis pada tahun 1831, Arsip Asia Afrika tahun 1955 dan Naskah Panji sekitar tahun 1700-1800, sedangkan Hikayat Aceh jauh lebih tua. Atas saran anjuran para peneliti Belanda dan Inggris tersebutlah membuat Wardiman mulai terjun riset Hikayat Aceh.

Di Aceh menurut saya ada dua naskah yang bagus diajukan untuk MoW setelah Hikayat Aceh yaitu Ar-Raniry dan Hamzah Fanshuri. Untuk mengajukan ke UNESCO saya lebih condong prioritaskan Naskah Hamzah Fanshuri terlebih dulu.

Kedua-dua naskah kuno tersebut memiliki kekuatan sendiri-sendiri. Jika naskah Hamzah Fanshuri lebih awal 30 tahun dibandingkan naskah Hikayat Aceh yang berisi kisah Raja Iskandar Muda dan bidang Sastra Melayu. Sedangkan naskah Ar-Raniry.

BACA JUGA...  Tak Kenal Libur, Pra TMMD Kodim 0104/Atim Tetap Berjalan

Namun semua kembali pada pertimbangan atas jumlah referensi terhadap naskah kuno di Aceh tersebut mana yang lebih banyak, sebab pertimbangan program MoW UNESCO untuk meloloskan nominasi naskah adalah dilihat dari banyaknya peneliti Barat. Makin banyak referensinya makin kuat untuk diangkat sebagai nominasi MoW.

MoW, Peran Perpustakaan Nasional RI dan Pemda Aceh.

Usaha dan peran besar Wardiman selaku promotor naskah-naskah kuno nusantara seperti Babad Diponegoro, Naskah Panji maupun Hikayat Aceh agar meraih nominasi Memory of The World ke Lembaga United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tidak terlepas dari sokongan Perpustakaan Nasional RI.

Di dalam proses menyiapkan naskah kuno untuk nominasi MoW, Wardiman bersama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) selalu menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagaimana halnya dengan naskah Hikayat Aceh yang sudah mencapai 60 persen risetnya selama setahun silam kali ini juga menggelar FGD.

FGD sekaligus sosialisasi naskah Hikayat Aceh sebagai nominasi MoW UNESCO berlangsung selama dua hari di Banda Aceh (13-14 November 2019).

Para peserta FGD Hikayat Aceh terdiri dari sejarawan, akademisi, dan pegawai Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh, kalangan jurnalis serta peserta Perpusnas sendiri.

BACA JUGA...  Ini Pernyataan Ir. H. Mawardi Ali

Untuk mendorong kelancaran program nominasi Hikayat Aceh agar masuk registrasi MoW UNESCO, Pemerintah Aceh melalui Kepala Dinas Badan Arsip dan Perpustakaan Prov. Aceh, Ruslan menyatakan kesediaan dan dukungan penuh Pemda yang nantinya berperan sebagai Co-nominator.

Pemerintah Aceh dalam hal ini Dinas Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh selanjutnya berkoordinasi dengan Perpusnas (RI) bersama Universitas Leiden (Belanda) sebab kedua pihak tersebut memiliki naskah tua Hikayat Aceh.

Hikayat Aceh dalam perpustakaan diketahui hanya ada tiga di dunia, dua di Universitas Leiden dengan kode Cod.Or 1954 dan Cod.Or.1983, serta satu di Perpusnas dengan kode KBG.421 Mal.

FGD juga menghadirkan Hermansyah dosen manuskrip Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh sebagai pemateri yang mengupas sejarah dan makna dari Hikayat Aceh yang sebagian besar mengisahkan perjalanan hidup Raja Iskandar Muda.

Pemateri lainnya ialah Endang Sri Rumiyati Rahayu, merupakan Sekretaris Komite Nasional MoW Indonesia yang membahas syarat-syarat pengusulan nominasi warisan dokumenter Indonesia.

Sejarah Hikayat Aceh pernah diteliti oleh Prof Teuku Iskandar dengan tajuk De Hikayat Atjeh yang salah satu bagian isinya tentang keistimewaan Sultan Iskandar Muda berkisah asal silsilah keturunannya. Peneliti Hikayat Aceh sebelum Teuku Iskandar adalah Prof Husein Djajadiningrat dengan judul yang sama. (R)

Berita Terkait

Wisuda 1.001 Lulusan, UNISAI Targetkan Akreditasi Unggul
KKN Kelompok 24 Ubah Lahan Kosong Jadi Lahan Produktif
Densus 88 Umumkan Pemenang Lomba Video Kontra Narasi IRET di Aceh
Ribuan Warga Terpukau dengan Penampilan Pelajar di Jalan Raya 
Peringati Hari Damai Aceh, Siswa SMK Negeri 1 Lhoksukon Gelar Nuansa Keagamaan dan Sosial
Erlizar Rusli Kupas Hukum
SMK Negeri 1 Lhoksukon dan Restu Motor Hadirkan Layanan Service Hemat bagi Warga
Ruang Belajar Kembali Berdiri, TK Raudhatul Jannah Bangkit dari Bencana

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:31 WIB

Wisuda 1.001 Lulusan, UNISAI Targetkan Akreditasi Unggul

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:25 WIB

KKN Kelompok 24 Ubah Lahan Kosong Jadi Lahan Produktif

Rabu, 19 Agustus 2026 - 07:31 WIB

Densus 88 Umumkan Pemenang Lomba Video Kontra Narasi IRET di Aceh

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Ribuan Warga Terpukau dengan Penampilan Pelajar di Jalan Raya 

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:32 WIB

Peringati Hari Damai Aceh, Siswa SMK Negeri 1 Lhoksukon Gelar Nuansa Keagamaan dan Sosial

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

Jamah MTH Hadiri Milad Ke-13 dan Haul Ke-4 Alm Rizky Adiguna 

Kamis, 27 Agu 2026 - 21:50 WIB

PEMERINTAHAN

Tarmizi Kumpulkan Pihak Perusahaan 

Kamis, 27 Agu 2026 - 21:42 WIB