Menurutnya, kemajuan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), transformasi digital, hingga dinamika politik internasional dapat menjadi peluang sekaligus ancaman apabila tidak diimbangi dengan landasan moral yang kuat.
“Pancasila adalah jangkar moral kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mengandung pesan penting bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi semata. Kemajuan juga harus diiringi dengan penguatan karakter, etika, dan nilai kemanusiaan yang menjadi ruh pembangunan nasional.
Dalam konteks kekinian, tantangan ideologi tidak lagi hadir dalam bentuk konfrontasi fisik seperti masa lalu.
Tantangan justru muncul melalui ruang digital yang memungkinkan penyebaran hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, intoleransi, hingga berbagai bentuk disinformasi yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Karena itu, internalisasi nilai-nilai Pancasila dinilai menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam praktik penyelenggaraan negara.




