“Saya percaya, putri saya tersenyum di atas sana. Dan ketika saya berdiri di podium, saya bukan hanya membawa nama saya [tapi doa keluarga, satuan, dan bangsa].”
[Letnan Dua Infanteri Andri Yanto, prajurit TNI AD dari Korem 011/Lilawangsa, Aceh].
- Di Antara Cahaya Panggung dan Cahaya Iman
KUALA LUMPUR, MALAM ITU, 12 Oktober 2025. Di bawah sorotan lampu putih keperakan Mega Star Arena, tubuh-tubuh berotot para atlet dunia berjejer di atas panggung.
Dari 37 negara, satu nama memecah keheningan saat pengumuman juara diumumkan; Letnan Dua Infanteri Andri Yanto, prajurit TNI AD dari Korem 011/Lilawangsa, Aceh.
Di tengah riuh tepuk tangan penonton, matanya berkaca. Ia bukan hanya menatap podium tertinggi, tetapi juga menatap jauh [ke tanah air yang diwakilinya, ke keluarganya yang menunggu di rumah, dan ke surga tempat putri kecilnya kini bersemayam].
“Alhamdulillah, target emas untuk Indonesia terwujud,” ujarnya lirih, menahan haru di bawah bendera merah putih yang perlahan dikibarkan di arena luar negeri.
- Dari Barak ke Arena Dunia
Tak banyak yang tahu, perjuangan Andri bermula dari barak sederhana di Lhokseumawe. Di sela-sela tugas militer, ia memeras waktu dan tenaga untuk latihan fisik.





