Dalam sambutannya, penerima Bintang Jasa Utama dari Presiden Prabowo Subianto ini menuturkan bahwa perjuangannya hanyalah bagian kecil dari upaya besar rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.
Ia juga mengenang peran dua tokoh penting dari Aceh yang turut berjuang bersama Soekarno, yaitu Abuya Muda Waly Labuhanhaji (Syekh H. Muhammad Waly Al-Khalidy) dan Teungku Muhammad Daud Beureueh.
“Saya hanya salah satu yang berjuang pada masa itu. Banyak ulama dan tokoh Aceh lain yang tak kalah besar pengorbanannya untuk bangsa ini,” ujar Nyak Sandang.
Dengan suara bergetar namun tegas, ia berpesan agar generasi muda tidak hanya mengejar kekayaan duniawi, tetapi juga menjaga nilai-nilai agama dan keikhlasan dalam berjuang. “Sejak muda, harta bagi saya itu nomor dua. Harta yang kekal adalah agama yang kita bawa sampai ke kubur, yaitu Islam,” tuturnya.
Sementara itu, dalam tausyiahnya, Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy mengingatkan jamaah tentang pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW. Ia juga menekankan pentingnya menjaga shalat wajib secara berjamaah. “Shalat berjamaah di masjid, jika tidak mampu, maka berjamaah di rumah. Jangan tinggalkan shalat lima waktu,” pesan Abuya. (R)




