Laporan | Syawaluddin
ACEH BESAR (MA) – Pasca pelantikan Nova Iriansyah sebagai Gubernur Aceh definitif beberapa waktu lalu, terjadi perubahan sangat mendasar.
Terutama itu, hubungan antara eksekutif dan legislatif awalnya disharmonis, kini terlihat harmonis.
Ada hal menarik, terutama pada tataran kebijakan, sikap dari kedua belah pihak semakin mempertontonkan kemesraan.
Demikian dikatakan, Usman Lamreung, Aktifis Sosial, Pemerhati Pemerintahan dan Akademisi Aceh ini pada mediaaceh.co.id. Selasa, 17 November 2020. Di Kuta Malaka.
Bahwa; Peta politik elit Aceh mulai bergeser, dilihat dari gugurnya hak angket oleh DPRA, beberapa minggu yang lalu, yang selanjutnya mulai harmonis Pemerintah Aceh dan DPRA.
Hilang Isu hak angket, beralih pada isu sosok wagub pasca pelantikan Nova sebagai Gubernur, maka berubah eskalasi dinamika politik elit Aceh.
Dan ini bakal menguntungkan Nova sebagai penguasa pemerintah Aceh. Bila Wagub yang diusulkan salah satu partai pengusung, yaitu PNA selama ini berseberangan pemerintah Nova, tergabung dalam Koalisi Aceh Bermartabat (KAB).
Sudah pasti kekuatan KAB diparlemen berkurang. Biarpun kemudian posisi Partai Aceh masih ada peluang dalam memainkan dinamika politik Aceh saat ini.



