Menjelang siang, rombongan menutup peninjauan dengan doa bersama. Kegiatan berlangsung tertib dan penuh semangat kebersamaan. Hadir pula Kasdim, Pasiter, Danunit, serta para Datok Penghulu dan warga sekitar.
Bagi masyarakat Aceh Tamiang, kunjungan itu bukan sekadar agenda dinas. Ia adalah tanda bahwa perubahan bisa dimulai dari desa, dari tangan sendiri, dan dari keyakinan bahwa ekonomi rakyat hanya akan kuat bila rakyatnya diberdayakan.
Di tanah yang subur itu, langkah-langkah kecil menuju kemandirian terus ditapaki. Dari kebun dan ladang, dari warung dan musyawarah desa, tumbuh sebuah harapan; bahwa ekonomi kerakyatan bukan sekadar wacana, melainkan gerakan yang hidup dan berakar di hati rakyat Aceh Tamiang. [].




