Ia menilai bahwa budaya nepotisme yang telah mengakar selama bertahun-tahun di BAS membuat banyak individu menduduki posisi strategis bukan karena kapabilitas, melainkan karena koneksi. Bahkan, Usman menilai bahwa direksi saat ini pun merupakan produk dari sistem instan yang tidak sehat tersebut.
“Kalau ada mantan pimpinan yang menertawakan kondisi sekarang, sejatinya mereka sedang mencemooh hasil dari kebijakan yang dulu mereka buat sendiri,” tambahnya.
Ia juga menyebut bahwa penempatan pejabat yang sarat kepentingan politik dan pribadi telah menghancurkan kultur profesionalisme di BAS. Karena itu, menurutnya, tidak etis jika mantan pimpinan mencuci tangan dan menyalahkan manajemen saat ini atas keruntuhan organisasi.
Sebagai solusi, Usman menegaskan perlunya reformasi menyeluruh di tubuh BAS. Ia mendorong agar dilakukan pembenahan total, termasuk penempatan individu-individu profesional dan kompeten di posisi kunci. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk terus memperketat pengawasan.
“Dengan pengawasan yang konsisten dan gebrakan reformasi internal, BAS masih memiliki peluang untuk bangkit dan menjadi lembaga keuangan yang profesional, sehat, dan dapat dipercaya,” tutup Usman.(Sayed Panton)




