Inovasi Budidaya Melon Hidroponik di Trienggadeng,  Menyongsong Era Agrowisata

“Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda bisa sukses dengan bertani, meski tinggal di desa. Lahan bisa dimanfaatkan secara produktif untuk usaha yang menjanjikan,” ujar Zulkhairi dengan penuh semangat.

Selain itu, mereka berencana untuk mengembangkan usaha ini menjadi objek wisata edukasi dan agrowisata, dengan memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk dan menginspirasi kaum muda untuk melihat peluang di sektor pertanian.

BACA JUGA...  Pemko Sabang Beri Tanda Bagi Rumah Bantuan

Kepala DPMPTSP Nakertrans Pidie Jaya Fajri, juga mengungkapkan harapan agar usaha budidaya melon ini bisa mengakses pasar modern dengan memenuhi prosedur sertifikasi standar, sehingga produk yang dihasilkan bisa diterima secara luas.

Zulkhairi menjelaskan bahwa melon yang dibudidayakan memiliki siklus 60 hingga 70 hari untuk siap panen. Mereka menanam dua jenis melon, yaitu Intanon RZ dan Sweet Net 9, di dalam green house seluas 200 meter persegi yang mampu menampung 366 polybag, dengan masing-masing polybag berisi dua tanaman. Setiap buah melon yang dihasilkan memiliki bentuk bulat sempurna dengan berat rata-rata 1,5 kilogram.

BACA JUGA...  Alhudri Terus Lakukan Inovasi Pendidikan, Ini MoU dengan BPMA

Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, yaitu Rp 25.000 per kilogram, memberikan peluang besar bagi masyarakat yang ingin mencoba bisnis ini. Dengan harga yang bersaing dan kualitas yang terjamin, usaha budidaya melon hidroponik di Gampong Raya Trienggadeng diprediksi akan terus berkembang dan menjadi peluang usaha yang menjanjikan di masa depan.(TM)