Di sisi lain, komitmen percepatan pembangunan juga ditegaskan oleh pimpinan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Mujianto. Ia menyampaikan bahwa pihaknya bekerja tanpa menunda proses pembangunan demi menghindari penderitaan berkepanjangan bagi korban bencana.
Menurut Mujianto, setiap hari memiliki arti penting. Penundaan sekecil apa pun dapat berdampak langsung pada kehidupan masyarakat yang masih bertahan dalam kondisi darurat.
Karena itu, pembangunan huntap dilakukan dengan prinsip cepat, tepat, dan bertanggung jawab.
Tidak hanya menyediakan hunian, yayasan tersebut juga berkomitmen melengkapi rumah dengan fasilitas dasar seperti sofa, tempat tidur, meja tamu, dan rak ruang tamu.
Bantuan ini diharapkan dapat membantu warga memulai kehidupan baru dengan lebih layak.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, Forkopimcam, Plt Sekda Aceh Tamiang, para asisten Setdakab, kepala OPD, serta masyarakat penerima manfaat. Suasana berlangsung tertib dan penuh harap.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, program huntap ini mencerminkan upaya pemulihan sosial dan psikologis masyarakat pascabencana.
Rumah yang dibangun bukan hanya struktur bangunan, melainkan simbol kebangkitan.
Di balik angka 200 unit huntap, tersimpan ratusan cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan yang kembali tumbuh.




