Kalkulasi Pembengkakan Anggaran
Denny memaparkan analisis matematis berdasarkan sensitivitas APBN terhadap perubahan asumsi dasar. Dengan asumsi normal ICP di angka $82/barel dan kurs Rp 15.500/USD, maka skenario krisis akan menciptakan selisih beban yang sangat besar.
Guncangan ICP: Setiap kenaikan $1/barel menambah defisit bersih sekitar Rp 1,5 Triliun. Dengan selisih $28 dari asumsi normal, beban bertambah Rp 42 Triliun.
Guncangan Kurs: Setiap pelemahan Rp 100/USD menambah beban subsidi sekitar Rp 3,5 Triliun. Dengan pelemahan Rp 1.500, beban membengkak hingga Rp 52,5 Triliun.
“Total potensi pembengkakan anggaran energi minimal mencapai Rp 94,5 Triliun. Angka ini bahkan bisa melampaui Rp 100 Triliun jika terjadi panic buying di masyarakat,” lanjut Denny.
Menghindari Risiko Sosial dan Politik
Lebih lanjut, Denny mengingatkan bahwa menaikkan harga BBM subsidi seperti Pertalite, Solar, dan LPG 3 Kg di tengah kondisi ekonomi yang sulit adalah langkah yang sangat berisiko secara politik. Sejarah tahun 1998 dan 2022 membuktikan bahwa lonjakan harga kebutuhan dasar adalah pemicu utama kerusuhan sosial massal yang dapat menggoyang legitimasi pemerintah.
Oleh karena itu, ia mengusulkan agar dana yang dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijadikan sebagai buffer atau bantalan fiskal sementara.




