DI tengah terpaan isu politik dan tuntutan birokrasi, langkah Armia Pahmi menyusuri kampung dengan motor trail menghadirkan gambaran lain tentang kepemimpinan.
Ia memilih senyap hutan, suara anak-anak kampung, dan keluhan warga sebagai sumber laporan paling jujur.
Blusukannya bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan menagih janji pembangunan; bahwa keberpihakan kepada rakyat harus dimulai dari keberanian untuk melihat kenyataan sebagaimana adanya.
Di Aceh Tamiang, pemimpin mungkin bisa memerintah dari kantor. Tapi untuk memahami denyut nadi rakyat, kadang ia harus turun ke jalan tanah [dan di sanalah, kepercayaan dibangun kembali, satu kampung demi satu kampung]. [].




