BEM FISIP Unsyiah Siap Gelar Konferensi se-Sumatera

Banda Aceh (MA)- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Universitas Syiah Kuala akan menyelenggarakan Konferensi BEM FISIP se-Sumatera pada tanggal 13 hingga 16 Februari mendatang.

Hal tersebut disampaikan Ketua BEM FISIP, Teuku Rizza Mully dalam siaran persnya kepada media ini, Minggu 9 Februari 2020.

“Konferensi ini sebagai wadah silaturahmi antar BEM FISIP se-Sumatera. Lalu, hasil buah pikir dari diskusi selama konferensi ini akan dijadikan konsensus untuk rekomendasi yang kemudian akan dikirimkan ke lembaga-lembaga, intansi, serta pemerintah agar menjadi perhatian khusus tentang permasalahan agraria di Sumatera,” ujar Rizza.

BACA JUGA...  SMP Negeri 1 Langsa Dibanjiri Pendaftar

Ketua panitia pelaksana Konfrensi BEM Fisip se Sumatera Anzal mengatalan, acara tersebut akan dihadiri oleh Plt Gubernur Aceh, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPA), Wali Kota Banda Aceh, DPRK Banda Aceh, Rektor Universitas Syiah Kuala, Dekanan FISIP beserta jajaran, dan 12 BEM Fakultas se Unsyiah, beserta Ormawa lainnya.

“InshaAllah 30 universitas akan hadir dengan 4 (empat) orang maksimal delegasi setiap universitas, target kita lebih dari 100 peserta,” jelas Anzal. Selain itu,

BACA JUGA...  UIN Ar-Raniry Gelar PBAK, Ketua Panitia Biologi: Patuhi Aturan atau Pulang!

Anzal juga menyebutkan, rangkaian kegiatan ini nantinya akan diisi dengan seminar nasional, field trip, kompetisi debat, dan diskusi tentang eksploitasi bumi andalas.

“Kita memandang, persoalan agararia ini merupakan persoalan yang mendesak, namun belum menemukan solusi konkrit. Hasil dari diskusi ini nantinya diharapkan bisa menjadi buah dari hasil pikir rakan BEM FISIP se-Sumatera yang akan direkomendasikan kepada pemerintah.

BACA JUGA...  Siswa SMKN 1 Tanah Jambo Aye Raih Juara I LKS Tingkat Provinsi

Lebih lanjut ia juga menambahkan, field trip akan berlangsung di Mesjid Raya Baiturrahman, PLTD Apung, Museum Aceh, Pantai lampuuk, dan Museum tsunami.

“Semua tempat ini akan menyajikan berbagai warna dalam setiap sudut dan sisi tempat, terutama di Museum tsunami Aceh yang merupakan Museum tsunami pertama di dunia,” pungkasnya. (R)