”Kita telah sepakat untuk melanjutkan pembangunan jembatan yang sudah lama terbengkalai itu,” Kata Bupati Armia.
KUALASIMPANG | mediaaceh.co.id – Ada cerita yang terlupakan, dipinggiran pesisir pantai Aceh Tamiang. Catatan itu di toreh 2014 lalu, Bandar Khalifah nama Kampung itu, berada di kecamatan Bendahara.
Kampung yang terhubung dengan ibukota kecamatan setempat, sulit diterabas. Sebab topografinya berada di areal paluh [Alur] dan sungai berair payau, yang dihuni jejeran hutan mangrove [Pohon bakau] tampak tak terawat.
Hari ini sebelas tahun silam, ada seonggok pilar abutmen, yang sejatinya pemerintah masa lalu telah menganggarkan untuk membangun jembatan.
Agar masyarakat di wilayah itu tak lagi terisolir, Moda mereka kala itu sampai kini masih menggunakan Getek [Alat penyeberangan berbentuk boat motor] sebagai alat transportasi masyarakat yang hilir mudik.
Aleh-aleh pembangunan jembatan Bandar Khalifah itu terhenti. Abutmen yang sedianya dasar pembangunan jembatan, mangkrak selama 11 tahun lamanya tanpa tersentuh.
Impian warga agar bisa menikmati jembatan sebagai alat penghubung antar kampung dan antar kecamatan [mengucapkan selamat tinggal Getek] buyar.
Jembatan itu gagal dibangun, hingga kini pilar abutmen itu menjadi catatan hitam pemerintahan yang lalu dan luka mendalam masyarakat Bandar Khalifah.




