Sejumput Asa Ditanah Leluhur Raja Kaloy

Selasa, 3 Maret 2020

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

KUALASIMPANG (MA) – Sore itu langit diatas tanah Raja Kaloy (desa Kaloy) kecamatan Tamiang Hulu, kabupaten Aceh Tamiang terlihat jingga, gemericik aliran air sungai Blutan yang melewati celah bebatuan cadas sangat bening, tenang, tetapi terkadang beraroma amarah dan murka.

Lelaki paruh baya, bertubuh hitam legam dan tegap itu tak lain Aswad 55 tahun, terlihat senyum mana kala suasana alam hari itu sangat bershabat dengannya dipenghujung temaram. Sesekali misainya yang tebal itu menyentuh ubi kayu bakar yang dilahapnya.

Dibipak berukuran 2×3 meter, berdinding ranting rantingan dahan dan beratap daun sungsang (pandan hutan), itulah peraduan Aswad dan teman temannya selama berminggu minggu berada dibelantara hutan, sebagai basecamp utama menuju Gunung Bukit Tiga Kilo, arah selatan kota Kualasimpang, kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Baca Juga :

Syafiyun Naji Hafizd Termuda Kota Sabang Tunjukkan Kemampuan Hafal Al-Qur’an 

Diduga Menyalahgunakan Bimtek APK, Dinas DPMKPPKB di Somatie BAI

Dari desa Kaloy, tempat Aswad bersenda gurau dengan keluarganya, butuh waktu satu hari satu malam perjalanan menyusuri alur alur bebatuan cadas dan besar dengan berjalan kaki, baru dapat menyentuh bibir Gunung Bukit Tiga Kilo.

Sebenarnya ada apa di Gunung Bukit Tiga Kilo?, tak banyak yang tahu potensi terkandung diperut gunung itu, hanya terlihat sunggingan keindahan heroik biru kehitaman mata memandang terpancar dideretan belantara bukit barisan.

BACA JUGA...  Langsa Barat Laksanakan Musrenbang Kecamatan

Luput dari tatapan mata teknologi, padahal sebongkah harapan besar ada diperutnya, yang tidak terduga sama sekali. Ada komoditi pertambangan terselip dimolek tubuhnya yang indah. Biji besi, bahan baku semen, emas dan dolomit.

Aswad tak membiarkan potensi ditanah tak bertuan itu, serta merta dia membawa teman temanya yang berasal dari jawa untuk melakukan survey dasar, atas kebenarannya. Teman teman Aswad memang sudah terbiasa hidup dibelantara hutan dan sungai yang berprofesi sebagai pendulang emas.

Baca Juga :

Sat Reskrim Polres Pijay Amankan Dua Maling Spesialis Hewan Ternak

Pak Bhen Jadi Pembina Upacara Di SMA Kuta Cot Glie

Malam sudah semakin larut, udara dingin kian menyeruak menyusupi tubuh kekar mereka yang ada di dalam bipak itu. Sesekali lolongan panjang harimau akar (macan tutul) menemani tidur mereka.

Sekitar pukul lima subuh krue Aswad sudah terbangun, udara subuh itu sangat lembab merekap tulang rasanya, jika tak biasa pasti menggigil. “Kami harus melakukan perjalanan sekitar 12 jam menyusuri blukar berduri, serta alur alur bebatuan, insha Allah sore kami sudah sampai dilereng Gunung Bukit Tiga Kilo, untuk itu ya harus bangun cepat”, katanya mengisahkan.

BACA JUGA...  Zurich Perkuat Layanan, Resmikan Kantor Baru di Batam

Blukar demi blukar, lereng terjal hingga berjalan didalam air selama kurang 2 jam mereka lalui. Kata Aswad, iklim memang tak bersahabat, hujan deras disertai angin kencang memaksa krue berteduh dibawah akar pohon kayu besar berdiameter kurang lebih 3,5 meter. “hutan ini masih perawan belum terjamah sama sekali. Ada sekitar satu jam kami bertahan, lalu bergegas kembali menyusuri rimba belantara bukit barisan,” kisahnya.

Wajah wajah lelah mulai terlihat, “satu jam lagi kita sudah sampai dititik sonding pertama, mengawali observasi kita, kami hanya memburu titik emas, tidak yang lain. Kita buat tambang rakyat,” ujar Aswad.

Sekitar pukul 5:45 wib waktu setempat, mereka tiba didinding gunung Bukit Tiga Kilo, tepatnya disonding pertama, secepatnya mereka mendirikan bipak untuk segera melepaskan lelah sambil ngasoh. Baru keesokan harinya mereka melakukan aktifitasnya.

Malam dilokasi sonding pertama sudah mereka lalui, pagi sudah menyapa mereka dengan sembulan matahari dari bebalik pepohon yang lebat, sinarnya mulai membakar tubuh mereka. Tapi mereka terasa sejuk, sebab sugesty asa besar ada didepan mata.

Baca Juga :

Klarifikasi Tundingan Jual Bantuan Rumah Dhuafa

IKAN Gelorakan Kampanye Anti Narkoba Melalui Lomba Gerak Jalan

BACA JUGA...  GIAR Meminta ABG di Aceh Harus Selaras

“Arman, keluarkan terus mesin dan perkakas kerja, riq harus kita dirikan. Ini pengeboran pertama yang kita lakukan. Untuk mengetahui potensi dan kadar emasnya,” jelas Aswad.

Bergegas krue melakukan kegiatannya menurut pungsinya masing masing. Menit, jam sudah mereka lalui, hingga 5 jam pertama pengeboran dengan kedalaman 30 meter sudah ditembus oleh matabor bergagang pipa galvanis berdiameter 10 centimeter, berbagai bebatuan, pasir dan lumpur dimuntahkan oleh perut bumi.

Belum juga menampak tanda tanda adanya dulangan emas, mereka terhenti dikedalaman 45 meter. Baru keesokan harinya mereka lanjutkan lagi pengeborannya. Kedalaman sudah mencapai 60 meter. Tiba tiba Aswad memrintahkan berhenti mengebor.

Seketika Aswad berteriak kegirangan, “kita berhasil, kita berhasil,” katanya. Asa mereka tak sekedar isapan jempol belaka. Mereka menemukan apa yang mereka harapkan selama ini, muntahan perut bumi tanah leluhur Raja Kaloy mengeluarkan serpihan dan butiran emas 22 karat.

Berbulan bulan krue Aswad berada di belantara rentetan bukit barisan, bergumul dengan emas, meski hasilnya tak seberapa, tapi ada kepuasan batin di diri mereka. “cukuplah buat makan anak istri kita dirumah, harapan saya ini bisa menjadi tambang rakyat yang berteknologi dan berwawasan lingkungan,” ujarnya. Mungkinkah?, Wallahu’alam Bhisawab. (Syawaluddin)

Berita Terkait

Pangdam IM Dorong Pemberdayaan Ekonomi Desa
Haili Yoga Minta SCOPI Turun ke Aceh Tengah
Tempat Tambatan KM Dangkal, Mahmud:  Sawang Dianaktirikan 
Dukung UMKM, Bank Aceh Terima Apresiasi ILO
Bank Aceh Tumbuh Positif, DPK Capai Rp27,58 Triliun
Firmandez dan Humam Hamid Bangun Saudagar Aceh di Gayo
Pasar di Aceh Selatan Sepi, Ini Penyebabnya 
Jelang HUT TNI Ke-81, Warga Serbu Pasar Murah 

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:08 WIB

Pangdam IM Dorong Pemberdayaan Ekonomi Desa

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:57 WIB

Haili Yoga Minta SCOPI Turun ke Aceh Tengah

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:27 WIB

Tempat Tambatan KM Dangkal, Mahmud:  Sawang Dianaktirikan 

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Dukung UMKM, Bank Aceh Terima Apresiasi ILO

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Bank Aceh Tumbuh Positif, DPK Capai Rp27,58 Triliun

Berita Terbaru

Bupati Aceh Tengah Drs. Haili Yoga, M. Si.

PEMERINTAHAN

Haili Yoga: MPP Citra Pelayanan Daerah

Jumat, 23 Okt 2026 - 11:51 WIB

Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), Brigadir Jenderal TNI Mahesa Fitriadi.

EKBIS

Pangdam IM Dorong Pemberdayaan Ekonomi Desa

Jumat, 23 Okt 2026 - 08:08 WIB