Banda Aceh (MA)- Pemuda Aceh yang juga pernah menjadi delegasi dalam forum “ASEAN Student Conference” Aljawahir S,Sos angkat bicara terkait kabut asap menyelimuti Aceh sejak pagi tadi hingga sekarang.
Menurutnya, udara buruk mulai menyerang Aceh sejak pagi tadi dipastikan akibat kebakaran hutan dan lahan di beberapa titik kawasan Indonesia.
“Bencana kebakaran hutan dan lahan bukanlah kali ini saja terjadi, tercatat dibeberapa wilayah dalam kawasan ASEAN juga pernah mengalami hal serupa beberapa tahun kebelakang. Isu ini juga sudah kita angkat dan kita bahas di malaysia tepatnya di UUM dalam acara “ASEAN Student Conference” dan rekomendasi juga sudah kita sampaikan kepada president ASC kala itu setelah usai forum Perkumpulan Pemuda dan Mahasiswa Se ASEAN bulan April lalu,” ungkap Aljawahir kepada Media mediaaceh.co.id, Selasa 24 September 2019 di Banda Aceh.
Ia juga menjelaskan, dalam Forum tersebut turut dhadiri delegasi Negara yang tergabung dalam ASEAN, termasuk perwakilan dari Indonesia dalam forum Conference tersebut diantaranya: Aljawahir, S.Sos, Jasiran, S.Sos, Syamsul Rijal dan Azhar Hasan SE.
Selain itu, Aljawahir menyebutkan, akibat Karhutla ini, membawa dampak buruk bahkan mengakibatkan kesehatan masyarakat sangat terganggu serta mengalami kesulitan dalam bernafas, maka tidak menutup kemungkinan kabut asap ini juga akan memakan korban yang banyak nantinya.
“Kami meminta Pemerintah jangan menutup mata dengan masalah ini, bukalah hati untuk kami rakyatmu, berikan rakyat bebas dalam bernafas, jangan sampai rakyat menderita lebih lama baru ada solusi yang ditawarkan,” pintanya.
Kepada pemerintah Republik indonesia dan Pemerintah daerah, wajib duduk bersama untuk mengatasi ini. “Jangan selalu mengkempanyekan kita peduli rakyat, kita cinta rakyat, kita bersama rakyat, tapi nyatanya hari ini masih bergejolak tinggi untuk rakyat sejahtera,” kata Ustad Alja yang juga Alumni Sekolah Pemimpin Muda Aceh ini.
Diakhir pernyataannya, Ia juga meminta kepada pemerintah RI (Presiden) agar menetapkan musibah kebakaran hutan dan lahan ini menjadi status bencana Nasional. (Ahmad Fadil)




