Yusra Efendi, salah satu perwakilan wartawan lokal Aceh Tengah, menegaskan bahwa permintaan maaf yang disampaikan secara sepihak melalui media tidak cukup untuk menyelesaikan polemik yang telah mencederai kehormatan profesi jurnalis.
“Kami menilai permohonan maaf yang hanya disampaikan lewat satu media tidak mencerminkan itikad baik. Ini bukan sekadar persoalan persepsi, tetapi menyangkut penghormatan terhadap martabat profesi wartawan,” tegasnya.
Ia juga menilai langkah Wakil Bupati tersebut tidak mencerminkan kedewasaan sikap seorang pemimpin daerah, terlebih dengan posisi strategis sebagai Wakil Bupati Aceh Tengah.
“Klarifikasi dan permintaan maaf itu sangat tidak mewakili sikap seorang pemimpin. Apalagi sekelas Wakil Bupati. Pernyataan yang melukai profesi pers tidak bisa diselesaikan secara sepihak dan tertutup,” ujarnya.
Atas dasar itu, Yusra Efendi bersama seluruh wartawan Aceh Tengah menyatakan tetap pada sikap awal, yakni meminta Bupati Aceh Tengah untuk mendesak Wakil Bupati menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik dan menggelar konferensi pers.
“Kami bersama seluruh wartawan tetap pada pendirian meminta Bupati Aceh Tengah mendesak Wakil Bupati agar menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan menggelar konferensi pers. Ini penting demi menjaga etika kepemimpinan, stabilitas pemberitaan pemerintah daerah, serta keberlanjutan kemitraan antara insan pers dan pemerintah ke depan.




