Dalam konteks ini, SPS menegaskan bahwa peran utama media justru semakin strategis, yakni sebagai clearing house atau penjernih informasi di tengah banjir hoaks dan disinformasi. Media harus memverifikasi, memberi konteks, dan menjadi rujukan bukan sekadar ikut dalam arus distribusi informasi yang bising.
Pengalaman di berbagai negara Eropa dan kawasan eks Uni Soviet menunjukkan bahwa media tetap bertahan bukan karena menjadi yang tercepat, tetapi karena menjadi yang paling dipercaya.
Momentum Mengembalikan Fungsi Pers
Momentum World Press Freedom Day 2026 yang berlangsung di Papua menjadi refleksi penting bagi masa depan pers Indonesia, khususnya dalam menjaga kualitas informasi di tengah kompleksitas sosial dan pembangunan daerah.
Ketua KTP2JB, Dr. Suprapto, menegaskan bahwa pers memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga keseimbangan informasi publik. “Di tengah derasnya arus informasi, pers harus tetap berdiri sebagai penyeimbang, memberikan informasi yang jernih, akurat, dan dapat dipercaya. Tanpa itu, ruang publik akan dipenuhi kebisingan tanpa arah,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Papua Komjen Pol.Purn. Mathius Derek Fakhiri, menekankan pentingnya peran pers dalam menjaga harmoni sosial dan keadilan pembangunan di daerah.




