Sehari Setelah Musda, Muktarrudin Usman Ajak Bersatu Selamatkan Industri Pers Aceh

Baginya, tantangan sesungguhnya justru berada di luar ruang sidang. Industri pers, khususnya media lokal, sedang menghadapi tekanan yang semakin berat. Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, pesatnya transformasi digital, serta dominasi platform digital global dalam menguasai belanja iklan membuat banyak perusahaan pers harus berjuang keras mempertahankan usahanya.

“Hari ini kita tidak sedang bersaing sesama media. Tantangan kita adalah bagaimana perusahaan pers tetap hidup, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan tetap menghasilkan karya jurnalistik yang profesional. Karena itu, tidak ada waktu lagi untuk terus berselisih paham,” katanya.

BACA JUGA...  SPS Aceh Audiensi dengan Pj Gubernur Terkait HUT dan Rakernas

Empat tahun lalu, saat pertama kali memimpin SPS Aceh, kondisi organisasi masih sangat terbatas dengan hanya dua perusahaan pers yang aktif sebagai anggota. Melalui konsolidasi yang dilakukan secara berkelanjutan, jumlah anggota terus bertambah hingga mencapai 37 perusahaan pers yang memiliki hak suara pada Musda III.

Di bawah kepemimpinannya, SPS Aceh juga mencatat berbagai prestasi nasional. Pada 2024, SPS Aceh dinobatkan sebagai SPS Provinsi Terbaik oleh SPS Pusat. Setahun kemudian, Aceh sukses menjadi tuan rumah peringatan HUT SPS ke-79, Rapat Kerja Nasional (Rakernas), dan SPS Awards yang dihadiri ratusan peserta dari 30 provinsi. Keberhasilan tersebut kembali mengantarkan SPS Aceh meraih predikat SPS Terbaik 2025, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pengurus daerah paling aktif di Indonesia.