Dalam kaitan itu, dia menyarankan agar jumlah dokter di poli rawat jalan dapat ditambah dan para medis harus memastikan antrian secara tertib dan teratur.
Selain antrian pasien rawat jalan yang sangat panjang, pasien yang ditangani di Ruang IGD juga cukup banyak sehingga terpaksa antri cukup lama.
Salah seorang tenaga medis Syaibatul Hamdi mengakui, pihaknya melaksanakan tindakan medis selama 24 jam penuh dan tiap hari melayani pasien 40 orang.
Plt. Direktur BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away (RSUD-YA) Tapaktuan dr. Erizaldi, setidaknya, mengetahui kondisi itu, namun sejauh ini belum terlihat keseriusannya untuk membenahinya termasuk menguraikan jumlah antrian pasien.
Kecuali, dia membuat kebijakan atas pengurangan kebutuhan pembiayaan berobat dan obat-obatan pasien dengan total Rp.230.000/pasien menjadi Rp.60-70 Ribu/pasien.
Selama penerapan pengurangan biaya, demikian dikatakan, per pasien hanya memerlukan Rp.60-70.000 Ribu/sekali berobat.
“Langkah ini, cukup menghemat penghematan anggaran BLUD,” kata Erizaldi kepada wartawan, belum lama ini.
Bagaimana dengan kualitas pelayanan, dijawab Erizaldi, tetap sama dan tidak mengurangi mutu.
“Bahkan selama ini terkesan boros dan obat yang diberikan terlalu boros,” katanya seraya menyebutkan pihaknya tidak menyalahkan kebijakan yang lalu.(Maslow Kluet).




