Baginya, gerakan hijau bukan lagi sekadar aksi simbolik—melainkan panggilan zaman di tengah krisis iklim dan ketimpangan pangan.
Filosofi gerakan ini sederhana namun kuat: menanam mangrove berarti menanam ketahanan, menanam coral berarti menanam harapan, dan menanam di hati generasi muda berarti menjaga masa depan.
“Upaya ini memperkuat ekosistem pesisir, melindungi pantai dari abrasi, sekaligus memulihkan habitat biota laut yang krusial bagi keberlanjutan lingkungan dan pariwisata bahari,” tambah Bang Arief, Abnon Jakarta Timur 2025, yang turut memimpin aksi konservasi bawah laut.
Selain aksi konservasi, peserta juga melakukan eksplorasi dan riset ke lahan pertanian Pulau Tidung.
Langkah ini membuka jalan menuju “pertanian adaptif pulau”; mengidentifikasi tanaman yang tahan kondisi pesisir, teknik budidaya hemat air, hingga peluang pemasaran produk lokal.
Dengan riset ini, generasi muda sedang menulis bab baru tentang bagaimana ketahanan pangan bisa lahir dari pulau kecil yang dulu hanya dikenal karena wisata baharinya.
Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, mengapresiasi penuh kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini bukan hanya penanaman, tapi langkah strategis menuju kemandirian pangan lokal. Kita ingin Pulau Tidung dan pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu mampu memproduksi bahan pangan sendiri, mengurangi ketergantungan dari daratan Jakarta,” ujarnya.
Gerakan ini juga mendapat dukungan penuh dari Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII).




