Pancasila di Tengah Gelombang Zaman

DALAM amanat tersebut juga ditekankan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol negara atau sekadar materi pelajaran di ruang kelas.

Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari masyarakat Indonesia.

Karena itu, seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, diajak untuk menjadikan Pancasila sebagai living ideology atau ideologi yang hidup.

BACA JUGA...  Birokrasi di Tengah Bencana

Nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila harus tercermin dalam sikap saling menghormati, semangat gotong royong, keadilan sosial, serta penghormatan terhadap keberagaman.

“Jangan biarkan nilai-nilai luhur Pancasila hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau sekadar teks dalam buku sejarah,” kata Ismail membacakan amanat tersebut.

Pesan tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi masyarakat saat ini. Di tengah derasnya arus media sosial dan perkembangan teknologi informasi, ruang publik kerap diwarnai ujaran kebencian, intoleransi, serta berbagai bentuk disinformasi yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

BACA JUGA...  Menyemai Harapan di Jakarta; Langkah Strategis Bupati Aceh Tamiang Menguatkan Sektor Pertanian

Karena itu, internalisasi nilai-nilai Pancasila menjadi kebutuhan mendesak yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

Keadilan Sosial sebagai Tolok Ukur Kebijakan

SELAIN menyoroti pentingnya persatuan, pidato Kepala BPIP juga mengingatkan bahwa implementasi Pancasila harus tercermin dalam setiap kebijakan publik.