Dengan semangat yang kuat, ia menjalani kehidupan bergerilya dari satu tempat ke tempat lain bersama para pejuang lainnya.
Ayahnya, Teungku Muhammad Husen bin Usman atau Ayah Timu, juga merupakan seorang kombatan yang syahid dalam konflik bersenjata di kawasan Cot Biek, Tanah Jambo Aye.
Sebagai bagian dari pasukan khusus Kompi A atau yang dikenal sebagai Pasukan Rawon, M. Jhony pernah dipercaya menjadi personel pengamanan dan pengawalan Komandan Operasi Daerah IV saat itu, Teungku Ismail A. Jalil atau Ayah Wa, yang kini menjabat sebagai Bupati Aceh Utara.
Dalam perjalanan perjuangannya, putra kesayangan dari Cut Ti Hasanah pernah merasakan langsung kerasnya konflik dan luka akibat timah panas.
Pasca perdamaian yang ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2005, M. Jhony turut bertransformasi mengikuti perubahan arah perjuangan. Dari perjuangan bersenjata, ia beralih ke perjuangan melalui jalur politik, sosial, dan pembangunan masyarakat.
Selain pernah dipercaya sebagai Tim Ekonomi dan Keuangan Sagoe Raja Sabi, ia juga pernah mengemban amanah sebagai Juru Bicara KPA Wilayah Samudera Pase serta sejumlah posisi strategis lainnya dalam organisasi perjuangan.




