Kapolda Aceh Jadi Narasumber di Rakernas Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Sabtu, 29 Februari 2020

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Yogyakarta (MA)- Kapolda Aceh Irjen Pol Drs. Wahyu Widada, M. Phil, menjadi narasumber pada Rapat Kerja Nasional Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang digelar di Sahid Jaya Hotel and Convention Yogyakarta, Jum’at 28 Februari 2020 malam.

Dalam kegiatan yang digelar mulai sekira pukul 19.00 Wib hingga selesai, Kapolda Aceh sebagai narasumber dalam Raker itu menyampaikan presentasinya, diantaranya mari kita kembali melakukan penataan dan pengawasan, karena kalau aturan sudah ada, tapi tidak diawasi dengan tepat, tidak kita kontrol dan tidak kita implementasikan dengan baik.

“Pengawasan itu terkait permasalahan deforestasi, pada prinsipnya Polri hanyalah pelaksana, sepanjang ada aturannya dan memberikan kewenangan kepada Polri untuk menerapkan dan melakukan penyidikan, kita siap mendukung,” kata Kapolda.

Dikatakan Kapolda, deforestasi hutan sudah dilakukan bertahun-hutan, seperti yang terjadi di Kalimantan. Masalah hutan di Kalimantan adalah hal penting.

Kalimantan adalah kawasan yang datar, sungai luas dan hutannya mudah dijangkau, bila ingin menebang hutan dan mengambil kayu tinggal dialiri saja melalui sungai-sungai tersebut, sehingga banyak hutan didataran rendah banyak yang gundul, sementara hutan yang masih tinggal yang di dataran tinggi.

BACA JUGA...  Polda Aceh Selidiki Video Pembakaran Bendera Merah Putih Viral di Medsos

Hutan di Kalimantan cukup luas dan kini banyak pelaku penebangan hutan yang terjadi di sana, sehingga hutan menjadi gundul.

Lebih lanjut Kapolda menyebutkan, hutan yang luas tidak saja di Kalimantan termasuk Papua hutannya juga cukup luas. Filosofi kita hutan harus dilestarikan setelah Tuhan menumbuhkan hutan-hutan tersebut.

Selain itu, di Riau juga banyak hutan yang gundul akibat kayu-kayu telah dipotong oleh manusia. Bisnis kayu luar biasa, sehingga kita takut suatu saat hutan dan hewan-hewan yang hidup di hutan tersebut akan musnah.

“Dengan habis hutan dan musnahnya hewan di hutan tersebut, kita takut anak cucu kita tidak bisa lagi mengenali hutan dan hewan-hewan di dalamnya seperti harimau dan gajah,” ujar Kapolda.

BACA JUGA...  Tarmizi Age: Peran Mualem-Dek Fad Cukup Penting dalam Reformasi Pemerintahan

Dikatakan Kapolda, anak cucu kita bila inging melihat hutan dan hewan seperti harimau dan gajah hanya melihat di Yutube saja.

Kita harus pertahankan hutan, tidak untuk sekarang tapi untuk ke depan nanti, sebut Kapolda.

Dijelaskan Kapolda, di Riau bahkan ada satu pulau yang hutannya telah ada konsesi untuk mengambil kayunya saja. Belum lagi untuk kepentingan politik, misalnya ada Pilkada, kepada perambah hutan itu dimintai KTP dan kemudian diperbolehkan untuk menebang hutan tersebut.

Selanjutnya terkait masalah perambahan hutan masalah Chainsaw harus diketahui jenis dan merknya. Dalam hal ini Pemda dan pihak LKH perlu mendatakan kembali tentang jenis chainsaw ini.

Dalam penegakan hukum, kita harus tahu asal usul kayu, kayu ini darimana dan jenis chainsaw yang digunakan.

“Bagaimana kita melakukan penegakan hukum sementara asal usul kayu dan jenis chaisaw yang digunakan, kita tidak punya data,” ungkap Kapolda.

Disebutkan Kapolda, kita harus tahu jenis chainsaw ini seperti kita mengetahui jenis senpi yang sudah teregistrasi. Kita harus tahu alur distribusi dan penjualan chainsaw, sehingga bila kita menemukan kayu-kayu yang dipotong dengan ciri-ciri potongannya sehingga memudahkan jenis chainsaw mana yang digunakan, sehingga mudah untuk dilakukan penyelidikan.

BACA JUGA...  Pemerintah Aceh Harus Cari Jalan Keluar Selesaikan Perjanjian MoU Helsinki

Kita juga perlu untuk melakukan pembatasan penjualan atau tataniaga chainsaw. Dengan chaisaw ini, orang mudah sekali menebang dan memotong kayu. Dengan ukuran beberapa centi meter dalam hitungan detik atau menit kayu sudah terpotong.

Diakhir presentasinya, Kapolda mengajak, mari sama-sama lakukan perubahan untuk dapat mendukung dan menguranginya deforestasi.

Kemudian, Polri dalam menyikapi masalah penebangan kayu ini adalah pelaksana dalam bidang penegakan hukum. Sepanjang ada aturan dan diberikan kewenangannya, maka Kami sebagai Polri siap untuk melakukan penegakan hukum.

Rakernas yang digelar di Yogyakarta itu, selain dihadiri Kapolda Aceh juga dihadiri Menteri dan Pejabat dari instansi terkait lainnya. (R)

Berita Terkait

Longsor Teratasi, Jalur Menggamat – Kota Fajar Lancar 
Besok, 1000 Anak Yatim Disantuni Wagub Aceh di Masjid Besar Quba
SAPA Desak APH dan BNN Tes Urine Anggota Legislatif Bireuen 
Tim Itdam IM Periksa Pekerjaan  Jembatan Aramco di Aceh Selatan
Kajari Panggil Dua Pejabat Disdikbud Aceh Tengah 
Bank Aceh dan BI Provinsi Aceh Luncurkan Soundbox QRIS Dinamis
Kapolsek Tanah Jambo Aye Gelar Sosialisasi Perlinsos di Buket Jrat Manyang 
Haili Yoga: MPP Citra Pelayanan Daerah

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Longsor Teratasi, Jalur Menggamat – Kota Fajar Lancar 

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:46 WIB

Besok, 1000 Anak Yatim Disantuni Wagub Aceh di Masjid Besar Quba

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:15 WIB

SAPA Desak APH dan BNN Tes Urine Anggota Legislatif Bireuen 

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:19 WIB

Tim Itdam IM Periksa Pekerjaan  Jembatan Aramco di Aceh Selatan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:13 WIB

Kajari Panggil Dua Pejabat Disdikbud Aceh Tengah 

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

Bakal Calon Ketua PWI Aceh Muhammad Saman Lolos Verifikasi SC

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:14 WIB

Wakil Bupati Asel H. Baital Mukadis bersama Dandim 0207/Asel Andrino Lubis memberikan motivasi kepada petugas agar penanganan longsor lebih cepat dan sempurna.(Foto/mediaaceh.co.id/istimewa).

PEMERINTAHAN

Longsor Teratasi, Jalur Menggamat – Kota Fajar Lancar 

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:09 WIB