Operasi ini didukung oleh tujuh tim dari Dinas Kesehatan Kota Binjai, dua tim dari Dinas Kesehatan Aceh Tamiang, serta tim relawan dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Namun, dr. Mustakim mengakui bahwa saat ini Aceh Tamiang masih menghadapi keterbatasan sarana. Dari 12 kecamatan yang ada, Dinkes Aceh Tamiang hanya memiliki dua unit alat fogging yang masih berfungsi, sementara unit lainnya mengalami kerusakan berat akibat terendam banjir beberapa waktu lalu.
“Kondisi alat kita terbatas karena banyak yang rusak akibat terendam banjir. Namun, melalui kolaborasi dengan Dinkes Kota Binjai, kita mendapatkan bantuan luar biasa, baik berupa alat, tenaga kesehatan, hingga bahan obat-obatan. Ini adalah bentuk optimalisasi pelayanan kami agar kebutuhan masyarakat di masa bencana tetap terpenuhi,” ujar dr. Mustakim kepada awak media saat berada di Pendopo Bupati, Sabtu, 7 Februari 2026.
Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pengasapan. Dr. Mustakim menegaskan bahwa upaya pencegahan dilakukan secara bertahap dan simultan.
Sasarannya meliputi pemukiman warga dan lokasi pengungsian, termasuk pemberian bubuk abate di sumur-sumur warga dan genangan air oleh petugas surveilans Puskesmas untuk membunuh jentik nyamuk (larvasida).




