Ia juga mengungkapkan bahwa survei terbaru dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan elektabilitas paslon 02, yakni Mualem-Dek Fadh, berada di angka 45 persen, jauh mengungguli paslon 01 yang hanya mencapai 29 persen.
Menurutnya, kesenjangan elektabilitas ini menjadi salah satu faktor kepanikan di kubu paslon 01, sehingga mereka terus memainkan strategi propaganda untuk meraih simpati masyarakat.
Selain itu, muncul isu bahwa paslon 02 tidak mendapat dukungan dari Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra. Namun, Dr. Usman menegaskan bahwa klaim ini tidak berdasar.
“Sebagai pemimpin partai, Prabowo secara alami mendukung kader partainya yang maju dalam Pilkada. Netralitas beliau sebagai presiden tidak menghilangkan hak untuk mendukung kadernya, sesuai dengan komitmen politik partai,” jelasnya.
Dr. Usman menutup pernyataannya dengan mengingatkan masyarakat agar bijak menyikapi situasi politik yang memanas.
“Pilkada Aceh tidak hanya menjadi ajang kompetisi program, tetapi juga perang strategi propaganda. Masyarakat diharapkan mampu menyaring informasi dengan cermat agar tidak terjebak dalam narasi provokatif. Keputusan memilih pemimpin harus didasarkan pada rekam jejak, visi-misi, dan integritas, bukan pada isu yang manipulatif,” pungkasnya.
(Sayed Panton)




