DARI JEMBATAN DARURAT KE RUANG KELAS

“Kami tidak hanya membangun jembatan dan sekolah. Kami sedang menjaga agar kehidupan masyarakat, terutama masa depan anak-anak, tidak terhenti karena bencana.”

[Kolonel Inf Ali Imran, Dansubsatgas Jembatan Aceh].

AIR BAH belum sepenuhnya surut dari ingatan warga Aceh. Banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah kabupaten bukan hanya merobohkan rumah dan jembatan, tetapi juga merobek ritme hidup; terutama bagi anak-anak sekolah.

Di banyak desa, ruang kelas berubah menjadi bangunan kosong berlumur lumpur, papan tulis mengelupas, buku-buku rusak, dan harapan yang sempat tertunda.

BACA JUGA...  Kala Prajurit TNI Korem Lilawangsa Memunajat Syukur Kemerdekaan Indonesia

Di tengah kondisi itulah, sebuah pendekatan berbeda dijalankan.

Bukan sekadar menambal kerusakan, melainkan memastikan kehidupan [termasuk pendidikan] segera kembali berjalan. Dari pembangunan jembatan darurat hingga renovasi sekolah, TNI Angkatan Darat mengambil peran yang melampaui fungsi tempur; menjaga masa depan.

KETIKA PEMULIHAN TAK BISA MENUNGGU

KEPALA Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menempatkan pemulihan pascabencana sebagai tugas yang tidak boleh terputus.

BACA JUGA...  DKP Pidie Jaya Tangani Darurat Muara Kuala Panteraja

Bagi TNI AD, bencana bukan hanya persoalan infrastruktur runtuh, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan sosial, ekonomi, dan pendidikan masyarakat.